Ukuran teks
18

Tiga Suara, Satu Perlawanan

Bayangkan Anda hidup di dunia di mana perempuan tidak boleh membaca. Tidak boleh menulis. Tidak boleh memiliki uang sendiri. Tidak boleh memilih dengan siapa mereka menikah, atau apakah mereka ingin menikah sama sekali. 

Bayangkan dunia di mana pakaian Anda menentukan identitas Anda—merah untuk Handmaid (budak reproduksi), hijau untuk Martha (pembantu), biru untuk Wife (istri), dan cokelat untuk Aunt (penjaga perempuan lain). 

Bayangkan dunia di mana agama telah diputarbalikkan menjadi alat kontrol. Di mana setiap aspek kehidupan perempuan—dari cara berjalan, cara berbicara, hingga cara berpikir—dikontrol oleh pria yang mengklaim bertindak atas nama Tuhan. 

Ini adalah Gilead. Republik teokratis yang dibangun di atas reruntuhan Amerika Serikat. 

Dan sekarang, 15 tahun setelah The Handmaid's Tale, tiga perempuan akan menceritakan bagaimana mereka meruntuhkan sistem dari dalam. 

Aunt Lydia—salah satu perempuan paling berkuasa dan paling ditakuti di Gilead. Dia yang melatih Handmaids. Dia yang menegakkan aturan. Tapi selama bertahun-tahun, dia diam-diam mengumpulkan rahasia yang bisa menghancurkan rezim. 

Agnes—gadis muda yang tumbuh dalam keluarga Commander elit. Dia tidak tahu dunia di luar Gilead. Tapi dia tahu ada yang salah—dan dia akan melakukan apa pun untuk melarikan diri dari pernikahan yang dipaksakan. 

Daisy—remaja yang tumbuh di Kanada, bebas dan normal. Sampai suatu hari dia mengetahui kebenaran: Dia adalah Baby Nicole, bayi yang pernah diselundupkan keluar dari Gilead dan menjadi simbol perlawanan internasional. 

Margaret Atwood menulis The Testaments 34 tahun setelah The Handmaid's Tale—dan buku ini bukan hanya sekuel. Ini adalah kesaksian. Ini adalah manifesto. Ini adalah cerita tentang bagaimana pengetahuan adalah kekuatan, bagaimana menulis adalah tindakan harapan, dan bagaimana perempuan—bahkan yang paling patuh sekalipun—bisa menjadi agen perubahan paling berbahaya.

Dan ini adalah cerita tentang balas dendam.

 


1 dari 9