Surat Terakhir dari Front
24 Desember 1915. Malam Natal.
Vera Brittain, gadis berusia 22 tahun, duduk di rumahnya di Inggris, membaca surat dari Roland Leighton—tunangannya yang sedang berperang di Prancis.
Roland menulis tentang betapa dia merindukan rumah. Tentang harapan mereka menikah setelah perang. Tentang masa depan yang akan mereka bangun bersama.
Vera tersenyum membaca surat itu. Dia membayangkan Roland akan segera pulang cuti. Mereka akan merayakan Natal bersama. Mungkin merencanakan pernikahan.
Dua hari kemudian, telegram tiba.
"Regret to inform you, Captain Roland Leighton died of wounds December 23rd."
Roland tidak mati dalam pertempuran heroik. Dia ditembak sniper saat memeriksa kawat berduri di tengah malam. Dia berbaring terluka selama berjam-jam di lumpur yang membeku sebelum ditemukan. Dia mati sendirian, dalam kegelapan, jauh dari rumah.
Dia berusia 20 tahun.
Ini hanya awal dari kehilangan Vera Brittain. Dalam tiga tahun berikutnya, dia akan kehilangan hampir semua orang yang dia cintai: saudaranya Edward, sahabat terbaik Edward—Geoffrey dan Victor. Empat pemuda brilian yang seharusnya menjadi penulis, profesor, pemimpin—semua mati sebelum usia 25.
Generasi penuh harapan. Hancur dalam perang yang tidak ada yang benar-benar memahami.
"Testament of Youth" adalah kesaksian Vera tentang generasi yang hilang itu. Bukan sekadar memoir perang. Ini adalah tangisan dari seorang wanita yang menyaksikan dunianya—dan semua orang yang dia cintai—dihancurkan oleh mesin perang yang brutal dan tidak masuk akal.