Ukuran teks
18

Wanita Murni yang Dihakimi Dunia

Bayangkan ini: Seorang gadis berusia 16 tahun—cantik, polos, bekerja keras—diperkosa oleh pria kaya yang memanfaatkan kemiskinannya. Dia hamil, melahirkan bayi yang mati beberapa minggu kemudian. 

Bertahun-tahun kemudian, dia jatuh cinta. Pria yang mencintainya balik. Mereka menikah. Pada malam pernikahan, dia menceritakan masa lalunya dengan jujur—mengakui apa yang terjadi padanya. 

Dan suaminya—pria yang mengaku mencintainya, yang sendiri pernah berselingkuh dengan wanita lain—meninggalkannya dengan jijik. 

"Kamu bukan wanita yang kukira," katanya. "Kamu tidak murni lagi." 

Inilah kisah Tess Durbeyfield. Atau lebih tepatnya, Tess of the d'Urbervilles—nama keluarga bangsawan yang sudah punah, yang menjadi sumber dari semua kemalangan hidupnya. 

Thomas Hardy menulis novel ini di tahun 1891, dan dia memberikan subtitle yang kontroversial: "A Pure Woman Faithfully Presented"—Seorang Wanita Murni yang Dipresentasikan dengan Jujur. 

Masyarakat Victorian marah. Bagaimana bisa seorang wanita yang "jatuh" disebut murni? 

Tapi itulah maksud Hardy. Dia ingin menunjukkan bahwa masyarakat—dengan standar ganda, moralitas palsu, dan ketidakadilan sistemik—adalah yang najis. Bukan Tess. 

Ini adalah kisah tentang bagaimana seorang wanita baik dihancurkan oleh dunia yang tidak adil. Tentang bagaimana takdir, keadaan, dan keputusan orang lain bisa merampas segalanya dari seseorang. 

Dan tentang bagaimana masyarakat sering menghakimi korban, bukan pelaku.

Mari kita mulai dari awal—dari malam ketika ayah Tess menemukan rahasia yang akan mengubah segalanya.

 


1 dari 13