Di Ambang Pilihan yang Mengubah Segalanya
Bayangkan Anda duduk di sebuah ruangan steril yang serba putih. Di meja depan Anda ada tiga tombol dengan label berbeda. Seorang peneliti berjas lab menjelaskan dengan nada datar:
"Tombol merah membuat Anda merasakan cinta yang luar biasa kepada orang di ruangan sebelah—yang bahkan tidak Anda kenal. Tombol biru membuat Anda merasakan kebencian mendalam. Tombol hijau? Tidak ada efek. Anda boleh memilih."
Apa yang akan Anda lakukan?
Sekarang pertanyaan sebenarnya: Bagaimana jika pilihan Anda tidak sepenuhnya Anda sendiri? Bagaimana jika ada obat yang bisa mengontrol emosi Anda? Bagaimana jika perasaan cinta, benci, atau ketidakpedulian Anda bisa diprogram?
Apakah keputusan Anda masih bermakna? Apakah Anda masih manusia?
Inilah dunia yang diciptakan George Saunders dalam "Tenth of December"—kumpulan 10 cerpen yang terasa seperti pukulan di ulu hati, diikuti pelukan hangat, lalu pertanyaan yang tidak bisa Anda lupakan.
Saunders tidak menulis tentang masa depan yang jauh. Dia menulis tentang sekarang—hanya dengan volume yang dikeraskan. Kapitalisme yang sudah gila menjadi lebih gila. Ketidaksetaraan yang sudah mengerikan menjadi lebih eksplisit. Pilihan moral yang sudah sulit menjadi mustahil.
Tapi di tengah semua absurditas, satire, dan distopia ringan, Saunders menemukan sesuatu yang mengejutkan:
Kemanusiaan tetap ada. Kebaikan tetap mungkin. Cinta tetap menang—meskipun dengan cara yang tidak pernah kita duga.
Mari kita jelajahi dunia ini. Dunia yang terasa asing tapi sangat familiar. Dunia yang membuat kita tertawa, menangis, dan yang paling penting—berpikir tentang siapa kita sebenarnya.