Malam yang Mengubah Segalanya
25 Oktober 1917. Pukul 11 malam. Petrograd, Rusia.
Seorang jurnalis Amerika berusia 30 tahun berdiri di sudut jalan yang gelap, mendengar suara tembakan di kejauhan. Di sekitarnya, ribuan pekerja dan tentara bersenjata bergerak menuju Winter Palace—istana megah tempat pemerintahan Rusia bersembunyi.
Udara dingin menusuk tulang. Napas membentuk kabut putih. Tapi John Reed tidak bergerak. Dia harus menyaksikan ini. Dia harus mencatat setiap detik.
Karena dia tahu—meskipun belum ada yang yakin pada saat itu—bahwa malam ini akan mengubah dunia selamanya.
Ini bukan sekadar pergantian pemerintahan. Ini bukan kudeta biasa. Ini adalah saat ketika rakyat paling tertindas di Eropa bangkit dan merebut kekuasaan dari tangan kaisar, borjuis, dan jenderal.
Sepuluh hari kemudian, ketika debu sudah mengendap, sebuah negara baru lahir: Soviet Rusia—eksperimen paling radikal dalam sejarah manusia untuk membangun masyarakat tanpa kelas.
John Reed—jurnalis, penyair, aktivis—berada di sana untuk setiap momen. Dia tidur tiga jam sehari. Menghadiri rapat-rapat yang berlangsung hingga subuh. Berbicara dengan tentara di parit. Mendengarkan pidato Lenin. Menyaksikan kerumunan merebut Winter Palace.
"Ten Days That Shook the World" adalah hasil reportasenya—bukan analisis dingin dari akademisi, tetapi catatan saksi mata yang bernapas, berdarah, dan penuh dengan ketegangan momen-momen ketika sejarah berbelok tajam.
Lenin sendiri menulis pengantar untuk buku ini: "Saya merekomendasikan buku ini dengan sepenuh hati kepada pekerja di seluruh dunia. Inilah yang saya harap: buku ini akan diterjemahkan ke berbagai bahasa... karena ini memberikan gambaran yang benar tentang peristiwa yang sangat penting bagi seluruh dunia."