Ukuran teks
18

Anak Berusia Tiga Tahun yang Mengubah Segalanya

Maria Montessori tidak pernah merencanakan untuk mengubah dunia pendidikan. 

Tahun 1907, sebagai dokter dan antropolog, dia diminta untuk mengawasi 50 anak dari keluarga miskin di kawasan kumuh Roma. Anak-anak ini dianggap "tidak bisa diajar"—liar, tidak bisa diam, merusak apapun yang mereka sentuh. 

Tidak ada yang mau mengurus mereka. Jadi Maria diberi ruangan kosong dan anak-anak yang "tidak ada harapan" ini. 

Apa yang dia lakukan? 

Dia tidak mengajar mereka dengan cara tradisional. Dia mengamati mereka.

Dan dia melihat sesuatu yang luar biasa: 

Seorang anak berusia tiga tahun menghabiskan 42 menit mengulangi satu aktivitas sederhana: menuangkan air dari satu pitcher ke pitcher lain. Berulang-ulang. Dengan konsentrasi yang intens. 

Anak-anak lain di sekitarnya bermain, berteriak, berlarian. Tapi anak ini tidak terganggu. Dia sepenuhnya tenggelam dalam pekerjaannya. 

Ketika selesai, wajah anak itu bersinar dengan kepuasan yang mendalam. Dia tidak butuh pujian. Dia tidak butuh reward. Aktivitas itu sendiri sudah memberikan kepuasan. 

Maria Montessori menyadari sesuatu yang revolusioner:

Anak-anak bukan "wadah kosong" yang perlu diisi dengan pengetahuan. Mereka adalah pembelajar alami yang punya dorongan internal untuk belajar—jika kita memberikan lingkungan yang tepat. 

Dari observasi ini lahir metode Montessori—pendekatan yang kini digunakan di lebih dari 20,000 sekolah di seluruh dunia. 

Tapi inilah yang sering dilupakan: Anda tidak perlu sekolah Montessori mahal untuk menerapkan prinsip-prinsip ini. Anda bisa melakukannya di rumah. 

Elizabeth G. Hainstock menulis buku ini untuk orang tua seperti Anda—yang ingin memberikan anak pengalaman Montessori tanpa biaya sekolah yang mahal, tanpa pelatihan khusus, dengan material yang bisa Anda buat dari barang-barang rumah tangga. 

Mari kita mulai.

 


1 dari 11