Ukuran teks
18

Pemakaman Talenta yang Terbuang

Bayangkan Anda menghadiri pemakaman. 

Tapi ini bukan pemakaman biasa. Ini adalah pemakaman massal untuk mimpi-mimpi yang tidak pernah terwujud, buku-buku yang tidak pernah ditulis, bisnis yang tidak pernah dimulai, lagu-lagu yang tidak pernah diciptakan. 

Di peti mati itu terbaring orang-orang yang pernah disebut "berbakat." 

Pianis yang jari-jarinya ajaib tapi tidak pernah berlatih—sekarang bekerja di pekerjaan yang ia benci. 

Atlet yang diberkati fisik sempurna tapi tidak punya disiplin—sekarang obesitas dan penuh penyesalan. 

Pengusaha dengan ide brilian tapi tidak punya keberanian untuk memulai—sekarang mengeluh tentang bos yang "tidak sebaik dirinya." 

Penulis dengan imajinasi luar biasa tapi tidak pernah menyelesaikan satu bab pun—sekarang mengatakan "suatu hari nanti" untuk kesekian ribu kali. 

John C. Maxwell, salah satu expert kepemimpinan paling berpengaruh di dunia, telah menghabiskan lebih dari 40 tahun mengamati ribuan orang—dari CEO Fortune 500 hingga atlet profesional, dari musisi berbakat hingga pemimpin organisasi. 

Dan dia menemukan pola yang mengejutkan: 

"Orang yang paling berbakat jarang yang paling sukses." 

Tunggu, apa? 

Bukankah kita selalu diberitahu bahwa talenta adalah kunci kesuksesan? Bukankah kita mencari orang "berbakat" untuk dipekerjakan? Bukankah kita iri pada orang yang "diberkati bakat alami"?

Maxwell tidak menyangkal pentingnya talenta. Tapi dia punya pesan yang lebih penting: 

"Talenta tidak pernah cukup. Talenta adalah titik awal, bukan garis finish. Apa yang Anda LAKUKAN dengan talenta Anda—pilihan-pilihan yang Anda buat setiap hari—itulah yang menentukan seberapa jauh Anda akan pergi." 

Buku ini tentang 13 pilihan yang membuat perbedaan antara talenta yang terbuang dan talenta yang mengubah dunia. 

Mari kita mulai.

 


1 dari 13