Ukuran teks
18

Zaman Terbaik, Zaman Terburuk

"Ini adalah zaman terbaik, ini adalah zaman terburuk. Ini adalah era kebijaksanaan, ini adalah era kebodohan. Ini adalah musim Cahaya, ini adalah musim Kegelapan. Ini adalah musim semi harapan, ini adalah musim dingin keputusasaan." 

Dengan kalimat pembuka yang paling terkenal dalam sastra Inggris, Charles Dickens membawa kita ke dua kota di dua negara—London dan Paris—di ambang salah satu peristiwa paling berdarah dalam sejarah: Revolusi Prancis. 

Bayangkan Anda hidup di dunia dengan dua ekstrem: 

Di Paris, aristokrat minum anggur sementara rakyat kelaparan. Mereka mengemudikan kereta kencang yang menabrak anak kecil di jalan—dan tidak peduli. Mereka memasukkan orang ke penjara selama puluhan tahun tanpa pengadilan, hanya karena bisa. 

Di London, kehidupan lebih stabil tapi tidak lebih adil. Hukuman mati untuk pencurian roti. Korupsi di mana-mana. Kemiskinan di setiap sudut. 

Ini adalah dunia yang menunggu untuk meledak. 

Dan di tengah kekacauan ini, ada kisah tentang cinta yang mustahil, pengorbanan yang luar biasa, dan pertanyaan yang akan bergema melalui abad: 

Berapa banyak yang Anda bersedia korbankan untuk orang yang Anda cintai—bahkan jika orang itu tidak pernah bisa menjadi milik Anda? 

Mari kita masuki dunia yang penuh kontradiksi ini, di mana kehidupan termurah dan cinta termahal.

 


1 dari 11