Pesan dalam Botol dari Tsunami
Bayangkan Anda berjalan di pantai terpencil di pulau kecil Kanada. Gelombang membawa sampah dari seluruh Pasifik—jaring ikan yang kusut, botol plastik, serpihan kayu.
Lalu Anda melihat sesuatu yang aneh: sebuah tas freezer Hello Kitty, terbungkus rapat, masih utuh meski jelas telah mengapung di laut selama berbulan-bulan, mungkin bertahun-tahun.
Anda membukanya. Di dalamnya: sebuah diary remaja, surat-surat, sebuah jam tangan antik, dan foto-foto keluarga.
Anda mulai membaca halaman pertama:
"Halo! Nama saya Nao, dan saya adalah time being. Apakah kamu juga time being? Jika kamu membaca ini, artinya YA kamu adalah time being. Kita semua adalah time being. Apakah kamu tahu apa artinya menjadi time being?"
Pertanyaannya langsung menghantam Anda: Siapa gadis ini? Di mana dia sekarang? Apakah dia selamat dari tsunami yang mengirim diary ini melintasi samudra?
Dan yang lebih mengganggu: Mengapa rasanya seperti dia berbicara langsung kepada Anda—melintasi waktu, melintasi ruang, melintasi kehidupan dan kemungkinan kematian?
Ini adalah bagaimana Ruth Ozeki memulai "A Tale for the Time Being"—novel brilian yang menenun dua cerita, dua benua, dua waktu menjadi satu eksplorasi mendalam tentang apa artinya hidup dalam momen ini, terhubung dengan orang yang tidak pernah kita temui, dan bagaimana kita semua—setiap makhluk yang hidup—adalah time being: makhluk yang ada untuk waktu yang singkat, namun dalam waktu itu, kita penting.
Mari kita masuk ke dua dunia yang terjalin ini.