Satu-satunya di Ruangan
Oktober 2015. Chelsea Kwakye berjalan memasuki ruang kuliah pertamanya di Cambridge—salah satu universitas paling bergengsi di dunia, tempat di mana Isaac Newton merumuskan hukum gravitasi, di mana Stephen Hawking mengajar, di mana perdana menteri dan pemenang Nobel dicetak.
Dia melirik sekeliling ruangan. 80 mahasiswa. Semua mata tertuju pada profesor di depan.
Lalu Chelsea menyadari sesuatu yang membuat perutnya mulas: Dia satu-satunya wanita kulit hitam di ruangan itu.
Bukan hanya minoritas. Bukan hanya "sedikit". Satu-satunya.
Dia duduk di bangku paling belakang, mencoba membuat dirinya sekecil mungkin. Mencoba tidak menarik perhatian. Mencoba—seperti yang akan dia lakukan berkali-kali selama tiga tahun berikutnya—untuk tidak mengambil terlalu banyak ruang.
Di ruang makan kampus, dia sering makan sendirian. Di perpustakaan, dia mendapat tatapan aneh ketika dia duduk di meja yang sama dengan mahasiswa kulit putih. Di pesta mahasiswa, seseorang bertanya: "Kamu pasti atlet atau penyanyi gospel, kan? Atau dapat beasiswa diversity?"
Tidak ada yang bertanya: "Kamu belajar apa?" atau "Apa passion kamu?" Asumsi sudah dibuat sebelum dia sempat membuka mulut.
Ore Ogunbiyi, co-author buku ini, mengalami hal serupa di Cambridge. Dia ingat momen ketika dosen—dengan niat baik—mengatakan padanya: "Sungguh menginspirasi melihat seseorang sepertimu di sini."
Seseorang seperti aku. Maksudnya: kulit hitam.
Bukan: pintar. Bukan: bekerja keras. Bukan: punya passion untuk subjek ini. Hanya: kulit hitam—dan itu sudah cukup mengejutkan untuk disebutkan.
Setelah bertahun-tahun mengalami momen-momen seperti ini—komentar yang tampaknya innocent tapi menyakitkan, tatapan yang membuat mereka merasa tidak diterima, kesendirian yang mendalam meskipun dikelilingi ribuan mahasiswa—Chelsea dan Ore memutuskan untuk bertanya:
"Apakah kami satu-satunya yang merasakan ini?"
Jadi mereka mulai mewawancarai wanita kulit hitam lainnya di Cambridge, Oxford, dan universitas elit lainnya di Inggris. Mereka berbicara dengan 40+ wanita—dari berbagai jurusan, berbagai latar belakang, berbagai generasi.
Dan yang mereka temukan mengejutkan sekaligus menghancurkan hati:
Tidak, mereka tidak sendirian. Hampir setiap wanita kulit hitam di ruang elit ini memiliki cerita yang sama.
"Taking Up Space" adalah kumpulan cerita-cerita itu. Tapi lebih dari itu—ini adalah manifesto tentang berani mengambil ruang di tempat yang tidak dirancang untuk kita. Dan mengubah ruang itu dalam prosesnya.
Mari kita mulai.