Misteri Popcorn Basi
Sabtu sore, tahun 2000. Sekelompok orang datang ke bioskop pinggiran kota Chicago untuk menonton film aksi Mel Gibson, Payback. Mereka mendapat kejutan: popcorn gratis dan minuman ringan, dengan satu syarat—mereka harus menjawab beberapa pertanyaan tentang kantin setelah film selesai.
Kedengarannya seperti kesepakatan yang bagus, bukan?
Tapi ada sesuatu yang sangat tidak biasa dengan popcorn itu: popcorn itu basi. Sangat basi. Dibuat lima hari sebelumnya, berderit saat dimakan, seperti Styrofoam kemasan. Bahkan beberapa penonton yang lupa popcorn itu gratis, meminta uang mereka kembali.
Yang lebih menarik: sebagian penonton mendapat ember popcorn ukuran medium, sebagian lagi mendapat ember ukuran jumbo—seperti kolam renang kecil. Kedua ember terlalu besar untuk dihabiskan siapa pun.
Pertanyaannya: apakah orang dengan ember besar akan makan lebih banyak popcorn basi yang mengerikan itu, meskipun mereka tidak bisa menghabiskannya?
Peneliti Brian Wansink menimbang ember sebelum dan sesudah film untuk mengukur konsumsi setiap orang.
Hasilnya mengejutkan: Orang dengan ember besar makan 53% lebih banyak daripada yang mendapat ember medium. Itu setara dengan 173 kalori ekstra dan 21 kali celupan tangan tambahan ke dalam ember.
Mereka makan popcorn yang basi. Yang tidak enak. Yang tidak bisa mereka habiskan. Hanya karena embernya lebih besar.
Apa artinya ini?
Ini bukan masalah orang rakus. Ini masalah ember yang terlalu besar.
Ini adalah wawasan pertama yang mengejutkan tentang perubahan: Apa yang terlihat seperti masalah orang seringkali adalah masalah situasi.
Dan di sinilah perjalanan kita dimulai—memahami mengapa perubahan begitu sulit, dan lebih penting lagi, bagaimana membuatnya lebih mudah.