Ukuran teks
18

Tragedi yang Seharusnya Tidak Terjadi

Tenerife, 27 Maret 1977. Kabut tebal menyelimuti bandara kecil di pulau tropis ini. Di dalam kokpit pesawat KLM Flight 4805, duduk Kapten Jacob Van Zanten—salah satu pilot paling berpengalaman di dunia, kepala program keselamatan KLM, pria yang wajahnya ada di iklan maskapai sebagai simbol keunggulan dan profesionalisme. 

Hari itu seharusnya menjadi penerbangan rutin dari Amsterdam ke Las Palmas. Tapi sebuah bom meledak di Las Palmas, dan pesawat dialihkan ke Tenerife. Sekarang, puluhan pesawat terpaksa menumpuk di bandara kecil yang tidak siap. Penumpang diturunkan. Menunggu. Satu jam. Dua jam. 

Van Zanten melihat jam. Pikirannya berpacu menghitung waktu. Pemerintah Belanda baru saja memberlakukan aturan ketat tentang periode istirahat pilot—jika dia tidak lepas landas sebelum jam 6:30 petang, dia harus berhenti. Ratusan penumpang akan terdampar semalam. Tidak cukup hotel di pulau. Ribuan penerbangan KLM akan terganggu. Dan lebih buruk lagi, melanggar aturan istirahat adalah kejahatan yang bisa dipenjara. 

Tekanan itu menumpuk seperti beban di dadanya. Dia harus lepas landas. Harus. 

Akhirnya, izin datang. Van Zanten segera menjalankan mesinnya, bergegas ke landasan pacu. Di tengah kabut tebal, visibility nyaris nol, dia mulai berakselerasi—tanpa menunggu izin lepas landas yang jelas dari menara kontrol. 

"Tunggu!" seru kopilotnya. "Kita belum punya izin!" 

Tapi Van Zanten sudah terlalu jauh. Terlalu committed. Terlalu takut kehilangan waktu yang tersisa. 

Lalu dia melihatnya—terlambat. Pesawat Pan Am di tengah landasan pacu, tersembunyi oleh kabut. Tidak ada waktu untuk mengerem. Van Zanten menarik hidung pesawat dengan putus asa, mencoba terbang lebih awal.

Hampir berhasil. Hidung pesawat melewati Pan Am. Tapi bagian bawah fuselage menabrak bagian atas Pan Am. 

Ledakan api. 584 orang tewas. Kecelakaan pesawat paling mematikan dalam sejarah. 

Tim ahli internasional segera turun ke Tenerife untuk investigasi. Semua orang bertanya pertanyaan yang sama: Bagaimana mungkin pilot paling berpengalaman, paling profesional, kepala keselamatan KLM—membuat kesalahan fatal seperti ini? 

Jawabannya bukan tentang keterampilan atau pengetahuan. Jawabannya ada di kekuatan psikologis tak terlihat yang "menarik" keputusan kita ke arah yang irasional—kekuatan yang para penulis Ori dan Rom Brafman sebut sebagai "Sway." 

Dan kekuatan ini tidak hanya mempengaruhi pilot. Kekuatan ini mempengaruhi kita semua, setiap hari, dalam keputusan besar dan kecil yang kita buat.

 


1 dari 10