"Siapa yang Merekrut Semua Idiot Ini?"
Sture adalah pengusaha sukses. Bisnisnya berkembang pesat. Angka penjualan bagus. Tapi ada masalah besar: ia tidak bisa bekerja sama dengan siapapun di kantornya.
Ketika Thomas Erikson, konsultan komunikasi, pertama kali bertemu Sture untuk konsultasi, pria itu duduk di belakang mejanya dengan wajah frustrasi.
"Saya dikelilingi oleh idiot," keluhnya. "Orang-orang di kantor ini tidak mengerti instruksi sederhana. Mereka lamban. Mereka bertele-tele. Mereka tidak bisa membuat keputusan."
Thomas mendengarkan dengan saksama. Lalu ia mengajukan pertanyaan yang mengubah segalanya.
"Anda punya sistem lampu di pintu ruangan Anda, kan? Merah, kuning, hijau—untuk menunjukkan kapan orang boleh masuk?"
"Ya," jawab Sture. "Merah berarti jangan ganggu. Kuning berarti tunggu. Hijau berarti silakan masuk."
"Dan orang-orang mengikutinya?"
"Tidak!" Sture meledak. "Itulah masalahnya! Orang-orang ini idiot. Lampu merah menyala, tapi mereka tetap mengetuk pintu. Atau mereka melihat lampu hijau dan... mereka tidak masuk! Mereka berdiri di luar menunggu!"
Thomas diam sejenak. Lalu ia bertanya pertanyaan yang membuat Sture marah sekaligus membuka matanya:
"Siapa yang merekrut semua idiot ini?"
Tentu saja, Sture sendiri yang merekrut mereka.
Pertanyaan sebenarnya bukan "Mengapa semua orang di sini idiot?" Pertanyaan sebenarnya adalah: "Mengapa saya tidak bisa memahami mereka?"
Setelah pertemuan yang canggung itu (Sture hampir mengusir Thomas), Thomas mulai berpikir. Ia menyadari bahwa masalah bukan pada karyawan Sture. Masalahnya adalah Sture melihat dunia hanya dari satu perspektif—perspektifnya sendiri. Dan setiap orang yang tidak berpikir atau bertindak seperti dia dianggap "idiot."
Dari momen itu, Thomas mendedikasikan karirnya untuk membantu orang memahami satu kebenaran fundamental: Orang yang kita anggap idiot sebenarnya bukan idiot. Mereka hanya berbeda dari kita.