Ukuran teks
18

Pertanyaan yang Mengubah Cara Kita Berpikir

Bayangkan Anda seorang ekonom yang menghadiri konferensi akademis yang serius. 

Lalu seseorang mengajukan pertanyaan: "Mengapa pelacur lebih murah sekarang dibanding 100 tahun lalu—padahal hampir semua hal lainnya lebih mahal?" 

Atau: "Mengapa mencuci tangan menyelamatkan lebih banyak nyawa daripada seluruh penemuan medis abad ke-20 digabung?" 

Atau yang paling kontroversial: "Apakah solusi untuk perubahan iklim global sebenarnya sangat murah dan sederhana—tapi kita tidak mau melakukannya karena tidak 'terlihat cukup serius'?" 

Ini adalah jenis pertanyaan yang membuat profesor ekonomi tradisional mengerutkan kening dan bergumam: "Itu bukan ekonomi yang serius." 

Tapi bagi Steven Levitt—profesor ekonomi University of Chicago yang tidak konvensional—dan Stephen Dubner—jurnalis New York Times yang penuh rasa ingin tahu—pertanyaan-pertanyaan "tidak serius" inilah yang paling menarik. 

Karena di balik pertanyaan aneh ini, ada pola perilaku manusia yang fundamental. Ada insentif tersembunyi. Ada konsekuensi tak terduga. Dan ada kebenaran yang counterintuitive—bertentangan dengan apa yang kita pikir kita tahu. 

Buku pertama mereka, "Freakonomics," menjadi fenomena global karena mengungkap kebenaran mengejutkan: penurunan kriminalitas di Amerika tahun 1990-an lebih banyak disebabkan oleh legalisasi aborsi daripada oleh strategi polisi. 

"SuperFreakonomics" melanjutkan tradisi ini—menggunakan data dan logika ekonomi untuk menjawab pertanyaan yang tidak pernah Anda pikirkan untuk tanyakan, dengan jawaban yang tidak akan pernah Anda duga.

 


1 dari 9