Satu Keputusan yang Mengubah Segalanya
7 Januari 2007. Steve Jobs berdiri di atas panggung Macworld Conference di San Francisco.
"Hari ini," katanya, "Apple akan memperkenalkan tiga produk revolusioner."
Produk pertama: iPod layar sentuh. Kerumunan bertepuk tangan.
Produk kedua: Ponsel revolusioner. Tepuk tangan lebih keras.
Produk ketiga: Perangkat komunikasi internet terobosan.
Lalu Jobs tersenyum dan berkata: "Ini bukan tiga perangkat terpisah. Ini satu perangkat. Dan kami menyebutnya... iPhone."
Kerumunan meledak.
Tapi inilah yang menarik: Hampir setiap eksekutif di industri ponsel pada waktu itu menertawakan iPhone.
CEO Microsoft Steve Ballmer mengatakan iPhone "tidak punya kesempatan" untuk mendapat market share signifikan. Nokia, yang menguasai 40% pasar ponsel dunia, tidak menganggap Apple sebagai ancaman serius. BlackBerry percaya bahwa bisnis tidak akan pernah meninggalkan keyboard fisik.
Sepuluh tahun kemudian? Nokia bangkrut. BlackBerry hampir punah. Dan Apple menjadi perusahaan paling berharga di dunia—sebagian besar karena iPhone.
Apa yang membuat Steve Jobs melihat sesuatu yang tidak dilihat oleh semua orang?
Bukan IQ. Bukan keberuntungan. Tapi cara dia berpikir.
Jobs menggunakan mental models—framework berpikir yang membantu Anda melihat realitas lebih jelas, membuat keputusan lebih baik, dan menghindari kesalahan yang orang lain buat.
Gabriel Weinberg, founder DuckDuckGo, menghabiskan bertahun-tahun mengumpulkan mental models paling powerful dari berbagai disiplin—ekonomi, psikologi, fisika, matematika—dan menuliskannya dalam "Super Thinking."
Bukan untuk membuat Anda menjadi genius. Tapi untuk memberi Anda toolbox yang sama yang digunakan oleh pemikir terbaik di dunia.
Mari kita mulai.