Ukuran teks
18

Ketika Tubuh Berteriak "Cukup!"

Bayangkan Anda sedang berdiri di lapangan pickleball, siap memberikan servis terbaik. Matahari bersinar cerah. Anda sudah berlatih selama berminggu-minggu untuk masuk ke dalam permainan dengan pemain yang lebih baik dari Anda. 

Anda ayunkan raket. Bola meluncur. 

Lalu—dalam sekejap—rasa sakit yang mengerikan menusuk dari punggung bawah Anda, menjalar ke tulang belikat, turun ke betis, melilit pergelangan kaki seperti kawat berduri. 

Anda jatuh. Tidak bisa bicara. Tidak bisa berpikir. 

Ini bukan cerita tentang cedera olahraga biasa. Ini adalah kisah Brené Brown—peneliti keberanian dan kerentanan yang terkenal di seluruh dunia—yang dipaksa tubuhnya sendiri untuk berhenti. Untuk memperlambat. Untuk belajar sesuatu yang fundamental tentang kekuatan. 

Empat puluh menit kemudian, Brené masih tergeletak di lantai gym. Teman-teman bermainnya membantunya ke mobil. Dalam perjalanan pulang empat blok, dia bahkan tidak bisa mengemudi dengan benar—naik ke trotoar, melintasi jalan masuk orang, akhirnya berhenti dan menangis selama sepuluh menit. 

Steve, suaminya yang seorang dokter anak, menariknya keluar dari mobil. Dia melihat kepanikan di mata Steve—sesuatu yang jarang terjadi untuk dokter yang sudah biasa melihat segala macam. 

"Kasih aku obat apa saja!" teriak Brené. "Aku tidak peduli! Aku akan masuk rehab nanti kalau perlu!"

Ini mengejutkan karena Brené sudah 25 tahun bersih dari alkohol dan rokok. Dia tidak suka minum obat apapun yang mengubah perasaannya. Tapi rasa sakitnya begitu luar biasa sampai dia rela melakukan apapun untuk menghentikannya. 

Empat minggu kemudian, seorang teman merekomendasikan pelatih bernama Tony. "Dia pekerja keajaiban," katanya. 

Kita lihat saja, pikir Brené.

 


1 dari 12