Ukuran teks
18

Hari Ketika Perhatian Saya Hilang

Johann Hari sedang duduk di kafe di London, mencoba membaca buku. 

Tapi setiap beberapa menit, tangannya meraih ponsel. Cek email. Scroll Twitter. Lihat notifikasi Instagram. Kembali ke buku. Baca satu paragraf. Lalu tangan ke ponsel lagi. 

Setelah dua jam, dia menyadari sesuatu yang menakutkan: Dia tidak ingat apa yang dia baca. 

Ini bukan pertama kali. Setiap hari, rasanya seperti pikirannya adalah kupu-kupu yang terus terbang dari satu hal ke hal lain. Dia tidak bisa menyelesaikan artikel panjang. Tidak bisa menonton film tanpa mengecek ponsel. Tidak bisa punya percakapan tanpa distraksi internal. 

Dan dia bukan satu-satunya. Di mana-mana, orang mengeluhkan hal yang sama: 

● "Aku tidak bisa fokus seperti dulu." 

● "Aku mudah teralihkan." 

● "Aku merasa otakku scatter sepanjang waktu." 

Tapi semua orang punya jawaban yang sama: "Ini salahku. Aku harus lebih disiplin. Aku lemah." 

Johann Hari tidak percaya itu. Jadi dia melakukan sesuatu yang radikal: 

Dia pergi ke Provincetown, kota kecil di Massachusetts, selama tiga bulan tanpa smartphone dan tanpa internet. 

Tidak ada email. Tidak ada social media. Tidak ada berita. Tidak ada notifikasi. Hanya dia, buku-buku, dan keheningan. 

Dan dalam tiga bulan itu, sesuatu yang luar biasa terjadi: Perhatiannya kembali.

Dia bisa membaca buku setebal 500 halaman dalam beberapa hari. Dia bisa duduk berjam-jam menulis tanpa distraksi. Pikirannya tenang. Fokusnya tajam. Dia merasa seperti mendapatkan otaknya kembali. 

Tapi kemudian dia kembali ke London. Kembali ke ponsel. Kembali ke internet. Dan dalam hitungan minggu, perhatiannya hilang lagi. 

Di situlah dia menyadari kebenaran yang menakutkan: 

Ini bukan hanya tentang kemauan. Ada sesuatu di dunia modern yang secara sistematis mencuri perhatian kita—dan kita bahkan tidak menyadarinya. 

Selama tiga tahun berikutnya, Hari melakukan investigasi mendalam. Dia wawancara ilmuwan di MIT, Stanford, dan Oxford. Dia berbicara dengan mantan eksekutif Silicon Valley yang mendesain produk adiktif. Dia meneliti studi dari seluruh dunia. 

Dan dia menemukan sesuatu yang mengejutkan: 

Krisis fokus kita bukan hanya masalah individu. Ini adalah krisis kolektif yang dirancang. 

Buku "Stolen Focus" adalah hasil investigasi itu. Dan pesannya mengguncang: Jika kita ingin mendapatkan perhatian kita kembali, kita tidak hanya perlu mengubah diri kita sendiri—kita perlu mengubah sistem yang mencuri fokus kita. 

Mari kita mulai.

 


1 dari 11