Kehilangan yang Mengajarkan
Tahun 2007. Darius Foroux, mahasiswa berusia 20 tahun, akhirnya punya cukup uang untuk mulai berinvestasi.
Dua ribu dollar. Hasil kerja keras. Tabungan yang dikumpulkan dengan susah payah.
Dia belajar teori investasi. Membaca buku. Merasa percaya diri. Lalu memasukkan uangnya ke pasar saham.
Timing-nya? Puncak gelembung perumahan 2008.
Dalam hitungan bulan, krisis finansial meledak. Pasar ambruk. Dan dua pertiga uang Darius—lebih dari $1.300—lenyap.
Bayangkan rasanya. Uang yang Anda kumpulkan dengan susah payah, hilang begitu saja. Bukan karena Anda bodoh. Bukan karena Anda tidak belajar. Tapi karena pasar runtuh pada saat yang paling buruk.
Apa yang akan Anda lakukan?
Kebanyakan orang akan menarik semua uang mereka dan bersumpah untuk tidak pernah berinvestasi lagi. "Pasar saham itu judi," mereka akan bilang. "Saya tidak akan terjebak lagi."
Darius hampir melakukan itu. Selama bertahun-tahun, dia menghindari investasi. Ketakutan tumbuh di dalam dirinya, menguat setiap hari.
Tapi kemudian, dia menemukan sesuatu yang mengubah segalanya.
Sebuah kutipan dari filsuf Stoic, Seneca:
"Setiap emosi lemah pada awalnya, lalu ia bangkit dan mengumpulkan kekuatan saat berkembang. Dan ketika Anda terlalu memanjakan emosi itu, itu menjadi kesalahan."
Pencerahan datang seperti kilat.
Selama ini, Darius membiarkan ketakutannya tumbuh dan menguat. Dia tidak butuh lebih banyak pengetahuan tentang investasi. Yang dia butuhkan adalah menguasai emosinya.
Dan di situlah perjalanannya dimulai—perjalanan yang menggabungkan kebijaksanaan kuno Stoic dengan strategi investasi modern. Perjalanan yang akhirnya menjadi buku ini.