Ukuran teks
18

Paradoks Zaman Modern

Tahun 2019. Seorang CEO Silicon Valley duduk di kantor modernnya yang serba otomatis. 

Tiga layar komputer di depannya. Smartphone terus berdering. Slack notifications tidak berhenti. Email masuk setiap menit. Calendar-nya penuh dari jam 7 pagi sampai 9 malam—meeting ke meeting, event ke event, video call ke video call. 

Dia produktif. Sangat produktif. Dia menyelesaikan lebih banyak dalam sehari daripada kebanyakan orang dalam seminggu. 

Tapi ada masalah: Dia tidak bisa berpikir. 

Tidak ada waktu untuk berpikir mendalam. Tidak ada ruang untuk refleksi. Tidak ada ketenangan untuk membuat keputusan penting dengan kepala jernih. 

Dia terus bergerak, tapi dia tidak tahu apakah dia bergerak ke arah yang benar. 

Ini adalah paradoks zaman kita: Kita punya lebih banyak teknologi untuk menghemat waktu, tapi kita lebih sibuk dari sebelumnya. Kita punya lebih banyak akses ke informasi, tapi kita lebih bingung dari sebelumnya. Kita lebih terhubung secara digital, tapi lebih terputus dari diri kita sendiri. 

Kita kehilangan sesuatu yang sangat berharga: ketenangan. 

Ryan Holiday, penulis dan filsuf Stoic modern, menghabiskan bertahun-tahun mempelajari tokoh-tokoh terbesar dalam sejarah—dari Marcus Aurelius hingga Winston Churchill, dari John F. Kennedy hingga Fred Rogers. 

Dan dia menemukan satu benang merah yang menghubungkan mereka semua: 

Di tengah tekanan yang luar biasa, mereka menemukan ketenangan. Dan dari ketenangan itu, datang kejernihan. Dan dari kejernihan itu, datang keputusan dan tindakan yang mengubah dunia.

Ketenangan bukan tentang tidak melakukan apa-apa. Ketenangan adalah fondasi dari semua yang besar. 

Mari kita pelajari bagaimana menemukannya.

 


1 dari 6