Malam Terakhir Dunia Lama
Toronto. Malam musim dingin. Di panggung Elgin Theatre, pertunjukan "King Lear" sedang berlangsung.
Arthur Leander, aktor terkenal berusia 51 tahun, sedang memainkan raja yang gila—monolog terakhir yang powerful, audiens terpaku, momen sempurna dalam karir panjang yang gemilang.
Lalu dia jatuh.
Bukan jatuh teatrikal yang direncanakan. Jatuh sungguhan. Serangan jantung masif. Di depan ratusan penonton, di tengah panggung yang terang benderang, Arthur Leander meninggal.
Seorang paramedis bernama Jeevan yang kebetulan menonton berlari ke panggung untuk mencoba menyelamatkannya. Tidak berhasil. Di backstage, seorang aktris anak berusia 8 tahun bernama Kirsten berdiri menangis, menyaksikan aktor yang dia kagumi meninggal.
Tapi inilah yang tidak mereka ketahui malam itu: Arthur adalah orang paling beruntung di antara mereka semua.
Karena dia mati sebelum melihat dunia berakhir.
Dalam 48 jam, flu Georgia—virus dengan tingkat kematian 99%—akan menyebar ke seluruh dunia. Dalam dua minggu, peradaban seperti yang kita kenal akan runtuh. Listrik mati. Internet hilang. Pesawat jatuh. Pemerintah bubar. Kota-kota menjadi kuburan.
Dan 20 tahun kemudian, segelintir orang yang selamat akan berkeliling di dunia yang kosong, di antara bangkai peradaban yang dulu agung, membawa satu pertanyaan: Apa yang membuat hidup layak dijalani ketika bertahan hidup saja sudah hampir mustahil?
Jawabannya mengejutkan: Shakespeare dan musik.
Ini adalah kisah tentang akhir dunia. Tapi lebih dari itu, ini adalah kisah tentang mengapa seni—bahkan di tengah reruntuhan—adalah apa yang membuat kita tetap manusia.