Ukuran teks
18

Pesan dari Bintang-Bintang

14 Februari 1990. Pesawat Voyager 1, setelah melakukan perjalanan 13 tahun melalui tata surya kita, memutarbalikkan kameranya untuk mengambil satu foto terakhir. 

Dari jarak 6 miliar kilometer—di ujung tata surya kita—Voyager mengambil foto Bumi. 

Dalam foto itu, Bumi hanya setitik kecil berwarna biru pucat. Satu pixel. Hampir tidak terlihat di antara kegelapan luar angkasa yang luas. 

Carl Sagan, astronom legendaris yang meminta foto itu diambil, menulis: 

"Lihatlah titik itu. Itu di sini. Itu rumah. Itu kita. Di atasnya semua orang yang kamu cintai, semua orang yang kamu kenal, semua orang yang pernah kamu dengar, setiap manusia yang pernah ada, menjalani hidup mereka." 

Semua raja dan pengemis. Semua pahlawan dan pengecut. Setiap pembangun peradaban dan penghancur peradaban. Setiap pasangan muda yang sedang jatuh cinta. Setiap ibu dan ayah. Setiap anak penuh harapan. Setiap guru, setiap politisi korup, setiap superstar, setiap pemimpin tertinggi, setiap santo dan pendosa dalam sejarah spesies kita—hidup di sana, di atas setitik debu yang melayang di sinar matahari. 

Neil deGrasse Tyson, ahli astrofisika paling terkenal di dunia, membuka bukunya "Starry Messenger" dengan pertanyaan sederhana tapi profound: 

Bagaimana jika kita melihat semua masalah kita—ras, agama, politik, perang, identitas—dari perspektif kosmik? 

Bagaimana jika kita "zoom out" dari konflik sehari-hari kita dan melihatnya dari sudut pandang alam semesta yang berusia 13,8 miliar tahun dan membentang 93 miliar tahun cahaya? 

Apakah masalah kita masih terlihat sama?

Mari kitam ulai perjalanan untuk melihat peradaban kita dengan mata baru—mata yang telah melihat bintang-bintang.

 


1 dari 10