Surat dari Sel Penjara
15 Oktober 1917, pukul 4 pagi.
Di sebuah sel dingin di Penjara Saint-Lazare, Paris, seorang wanita berusia 41 tahun duduk menulis surat terakhirnya.
Dalam beberapa jam, dia akan dieksekusi. Dituduh sebagai mata-mata yang menyebabkan kematian 50,000 tentara Perancis. Dihukum mati oleh regu tembak.
Namanya pernah bersinar di seluruh Eropa. Pria-pria berkuasa memohon perhatiannya. Penonton terpesona oleh tariannya. Koran menulis tentang setiap gerakannya.
Mata Hari—Mata dari Timur—penari paling terkenal dan kontroversial di zamannya.
Tapi nama aslinya adalah Margaretha Zelle. Gadis biasa dari kota kecil Belanda. Istri yang dipukuli. Ibu yang kehilangan anak. Wanita yang memutuskan menciptakan ulang dirinya sendiri di negeri asing.
Dan sekarang, di ujung hidupnya, dia menulis. Bukan untuk memohon pengampunan. Bukan untuk menyatakan tidak bersalah.
Dia menulis untuk menceritakan kebenarannya. Untuk menjelaskan pilihan-pilihannya. Untuk mempertahankan—sampai napas terakhir—hak untuk hidup sesuai keinginannya sendiri.
Paulo Coelho menemukan surat-surat ini—atau setidaknya mengimajinasikannya—dan memberikan kita jendela ke dalam pikiran wanita yang menolak menjadi korban, bahkan ketika dunia bertekad untuk menghancurkannya.
Ini bukan hanya kisah tentang mata-mata. Ini kisah tentang setiap wanita yang berani menentang norma yang dibuat untuk menjinakkan mereka.
Mari kita masuki dunia Mata Hari.