Malam di Gedung Putih, 1933
Malam itu, 4 Maret 1933, Amerika sedang sekarat.
Seperempat penduduk menganggur. Bank-bank kolaps. Keluarga-keluarga kehilangan rumah. Antrean roti membentang di setiap kota. Pertanian hancur. Harapan menguap.
Dan yang paling menakutkan: demokrasi itu sendiri tampak gagal. Di Eropa, Hitler baru saja berkuasa di Jerman dengan janji mengembalikan kejayaan. Mussolini berkuasa di Italia. Fasisme dan komunisme menawarkan "solusi" dengan mengorbankan kebebasan.
Banyak orang Amerika bertanya: "Mungkin demokrasi tidak cukup kuat untuk krisis ini. Mungkin kita perlu diktator yang efisien."
Di tengah kegelapan ini, seorang pria berusia 51 tahun—lumpuh dari pinggang ke bawah karena polio—berdiri (dengan penopang besi tersembunyi di kakinya) untuk mengucapkan sumpah sebagai Presiden ke-32 Amerika Serikat.
Franklin Delano Roosevelt tidak punya solusi ajaib. Ekonomi tidak akan pulih dalam semalam. Tapi dia punya sesuatu yang lebih penting: kata-kata yang mengubah ketakutan menjadi harapan.
Dalam pidato pelantikannya yang legendaris, dia berkata:
"Satu-satunya hal yang harus kita takuti adalah ketakutan itu sendiri—teror tanpa nama, tidak rasional, yang tidak dibenarkan yang melumpuhkan usaha yang diperlukan untuk mengubah mundur menjadi maju."
Kata-kata sederhana. Tapi powerful. Karena Roosevelt memahami sesuatu yang fundamental tentang jiwa Amerika:
Amerika bukan hanya geografi atau ekonomi. Amerika adalah ide. Dan ide itu selalu dalam pertarungan antara malaikat terbaik kita dan impuls tergelap kita.
Jon Meacham, sejarawan pemenang Pulitzer, menulis "The Soul of America" untuk mengingatkan kita: Krisis hari ini bukanlah yang pertama. Dan bukan yang terakhir.
Sepanjang sejarahnya, Amerika telah menghadapi momen ketika kebencian mengalahkan harapan, ketakutan mengalahkan keberanian, tribalisme mengalahkan persatuan.
Dan setiap kali, ada orang-orang yang berdiri dan mengatakan: "Tidak. Kita lebih baik dari ini."
Mari kita pelajari momen-momen itu. Karena mereka punya pelajaran untuk kita hari ini.