Ukuran teks
18

Detik-detik yang Mengubah Segalanya

Bayangkan ini: Anda adalah seorang perawat dengan 20 tahun pengalaman. Anda sudah membantu kelahiran ratusan bayi. Anda tahu setiap protokol, setiap prosedur darurat, setiap gerakan yang bisa menyelamatkan nyawa. 

Sekarang bayangkan Anda berdiri di ruang persalinan, melihat seorang bayi yang baru lahir mengalami cardiac arrest. Jantungnya berhenti berdetak. Napasnya terhenti. Dalam hitungan menit—bahkan detik—dia bisa meninggal. 

Anda tahu persis apa yang harus dilakukan. Tangan Anda sudah terlatih untuk bergerak otomatis dalam situasi seperti ini. CPR. Chest compression. Bantuan napas. Anda bisa menyelamatkan bayi itu. 

Tapi ada satu masalah: Anda dilarang menyentuhnya. 

Karena warna kulit Anda. 

Ini bukan fiksi ilmiah. Ini bukan cerita dari masa lalu yang kelam. Ini adalah kenyataan yang dihadapi Ruth Jefferson, perawat persalinan berkulit hitam di Connecticut, dalam novel terbaru Jodi Picoult, "Small Great Things." 

Dalam beberapa detik keraguan itu—detik-detik yang akan mengubah hidupnya selamanya—Ruth harus memutuskan: Patuhi perintah atau ikuti suara hatinya sebagai perawat? 

Keputusannya akan membawanya ke ruang sidang, menghadapi tuduhan pembunuhan, dan memaksanya menghadapi kebenaran yang tidak nyaman tentang rasisme di Amerika—baik yang tersembunyi maupun yang terang-terangan. 

"Small Great Things" bukan hanya tentang satu perawat, satu bayi, atau satu keluarga. Ini adalah cermin yang dipaksakan Picoult di hadapan pembacanya, memaksa kita semua untuk menghadapi pertanyaan yang tidak nyaman: Siapa kita sebenarnya ketika tidak ada yang melihat?

 


1 dari 11