Katak Emas yang Menghilang
Tahun 1989. Hutan pegunungan Panama.
Seorang ahli herpetologi bernama Karen Lips sedang melakukan penelitian di hutan hujan yang masih perawan. Dia mencari katak—khususnya katak emas Panama, salah satu amfibi paling indah di dunia. Warnanya oranye terang berkilauan, seolah dibuat dari emas cair.
Lips menemukan ribuan katak. Hutan penuh dengan suara mereka. Ekosistem yang sehat dan hidup.
Dia kembali setahun kemudian.
Hening.
Tidak ada suara katak. Tidak ada katak di sungai. Tidak ada di bebatuan. Tidak ada di mana pun.
Dalam satu tahun, populasi yang tadinya ribuan—lenyap total.
Ini bukan karena deforestasi. Hutan masih utuh. Ini bukan karena polusi. Air masih bersih. Ini bukan karena predator baru. Tidak ada yang berubah secara kasat mata.
Tapi katak-katak itu menghilang.
Lips tidak tahu apa yang terjadi. Tidak ada yang tahu. Ini adalah misteri yang menakutkan—dan petunjuk pertama dari sesuatu yang jauh lebih besar sedang terjadi di planet kita.
Elizabeth Kolbert, jurnalis The New Yorker, menghabiskan bertahun-tahun menyelidiki misteri ini dan ratusan misteri serupa di seluruh dunia. Perjalanannya membawanya dari hutan Panama ke Great Barrier Reef, dari gua-gua di Amerika hingga pulau-pulau terpencil di Pasifik.
Yang dia temukan mengubah cara kita memahami tempat kita di planet ini:
Kita sedang berada di tengah kepunahan massal—yang keenam dalam sejarah Bumi. Dan untuk pertama kalinya, penyebabnya bukan asteroid, bukan gunung berapi, bukan bencana geologi. Penyebabnya adalah kita.
Buku "The Sixth Extinction" adalah kisah tentang bagaimana satu spesies—Homo sapiens—dalam waktu yang sangat singkat, mengubah planet ini dengan cara yang tidak akan pernah bisa dipulihkan.
Ini bukan buku tentang masa depan yang suram. Ini buku tentang apa yang sedang terjadi sekarang.
Mari kita mulai.