Ukuran teks
18

Kamar yang Penuh, Anak yang Kosong

Sarah duduk di lantai kamar anaknya yang berusia 5 tahun, Emma, dikelilingi oleh mainan. 

Mainan di rak. Mainan di kotak. Mainan di lemari. Mainan di bawah tempat tidur. Ratusan mainan—boneka, puzzle, Lego, mobil-mobilan, kostum princess, kitchen set, tablet edukasi, board games. 

"Emma sayang, mau main apa?" tanya Sarah. 

Emma melihat sekeliling. Wajahnya... bingung. Overwhelmed. 

"Aku tidak tahu, Mama," katanya pelan. Lalu dia duduk di tengah lautan mainan itu, tidak menyentuh apa pun, dan mulai menangis. 

Sarah bingung. "Kenapa dia menangis? Dia punya segalanya! Saya memberikan semua yang saya tidak punya saat kecil. Kenapa dia tidak bahagia?" 

 


Kim John Payne, konselor keluarga yang telah bekerja dengan ribuan keluarga, sering mendengar cerita seperti ini. 

Dan dia punya diagnosis yang mengejutkan: "Anak-anak modern menderita 'soul fever'—demam jiwa—karena terlalu banyak. Terlalu banyak barang. Terlalu banyak pilihan. Terlalu banyak informasi. Terlalu banyak kecepatan." 

Payne menemukan sesuatu yang kontradiktif namun benar: 

Kita memberikan anak-anak kita lebih banyak dari generasi mana pun dalam sejarah—lebih banyak mainan, lebih banyak kegiatan, lebih banyak stimulasi—namun mereka lebih cemas, lebih tidak fokus, dan lebih tidak bahagia daripada sebelumnya. 

Solusinya bukan memberikan lebih banyak. Solusinya adalah simplifikasi—memberikan lebih sedikit sehingga anak bisa menjadi lebih banyak.

 


1 dari 10