Keluhan yang Salah
Hampir 2.000 tahun yang lalu, di Roma kuno, seorang filsuf bernama Seneca mendengar keluhan yang sama berulang kali:
"Hidup terlalu pendek."
Pedagang mengeluh tidak punya cukup waktu untuk membangun kekayaan. Politisi mengeluh tidak cukup waktu untuk mencapai kekuasaan. Orang biasa mengeluh tidak punya waktu untuk keluarga, untuk belajar, untuk hidup.
Keluhan universal yang masih kita dengar hari ini—mungkin bahkan dari mulut kita sendiri. Tapi Seneca, dengan ketajaman yang hanya dimiliki filsuf Stoic, membantah keras:
"Hidup tidak pendek. Kita membuat hidup pendek. Kita tidak kekurangan waktu—kita menyia-nyiakannya."
Bayangkan seseorang memberikan Anda 1 juta dolar. Tapi alih-alih menggunakannya dengan bijak, Anda:
● Memberikan sebagian besar ke orang asing yang tidak Anda kenal
● Membuang sisanya untuk hal-hal yang tidak Anda pedulikan
● Lupa di mana Anda menyimpan sebagian besar uang itu
● Dan kemudian mengeluh bahwa 1 juta dolar "tidak cukup"
Gila, bukan?
Tapi itulah yang kita lakukan dengan waktu. Kita diberi 24 jam setiap hari—lebih dari 700.000 jam dalam seumur hidup rata-rata. Tapi kita:
● Menghabiskannya untuk hal yang tidak penting
● Memberikannya kepada orang yang tidak kita pedulikan
● Menyia-nyiakannya pada aktivitas yang tidak bermakna
● Dan kemudian mengeluh: "Hidup terlalu pendek!"
Seneca menulis "On the Shortness of Life" sebagai surat kepada temannya, Paulinus, yang mengeluhkan betapa cepatnya waktu berlalu. Tapi esai ini bukan sekadar surat—ini adalah tamparan keras ke wajah setiap orang yang mengklaim tidak punya waktu.
Mari kita lihat mengapa Seneca berpikir kebanyakan dari kita hidup seperti orang bodoh yang kaya—dan bagaimana kita bisa berubah.