Pagi Ketika Segalanya Berubah
Bayangkan ini: Barcelona, 1945. Fajar baru menyingsing setelah malam yang dingin.
Seorang anak laki-laki berusia sepuluh tahun berjalan melalui jalanan Gothic Quarter yang masih sepi, tangan kecilnya digenggam erat oleh ayahnya. Dia baru kehilangan ibunya. Dunianya terasa abu-abu dan kosong.
Lalu ayahnya membawanya ke tempat yang akan mengubah hidupnya selamanya:
The Cemetery of Forgotten Books.
Bukan kuburan biasa dengan batu nisan dan tanah. Ini adalah labirin gothic yang megah—rak-rak yang menjulang tinggi hingga langit-langit gelap, berisi ribuan buku yang dilupakan dunia. Buku-buku yang tidak lagi dibaca, tidak lagi dicari, menunggu untuk ditemukan oleh satu pembaca yang ditakdirkan.
"Tempat ini adalah misteri, Daniel," kata ayahnya. "Sebuah sanctuary. Setiap buku yang kau lihat di sini memiliki jiwa—jiwa dari orang yang menulisnya, dan jiwa dari mereka yang membacanya dan hidup bersama mereka dan memimpikan bersama mereka."
Aturannya sederhana: Pilih satu buku. Hanya satu. Dan jaga buku itu selamanya.
Daniel menelusuri lorong-lorong yang tak terhitung. Ribuan buku. Ribuan pilihan. Dan kemudian, seolah buku itu yang memanggil dia—tangannya menyentuh punggung buku dengan judul yang puitis dan misterius:
"The Shadow of the Wind" oleh Julián Carax.
Dia tidak tahu saat itu, tetapi buku ini akan mengubah seluruh hidupnya. Buku ini akan membawanya ke dalam misteri yang melibatkan cinta terlarang, pengkhianatan yang mengerikan, dan rahasia kelam yang telah terkubur selama puluhan tahun.
Karena setiap buku punya jiwa. Dan kadang, jiwa itu menuntut untuk diceritakan.