Kalimat yang Mengubah Segalanya
"Salju di pegunungan sedang mencair dan Bunny sudah mati selama beberapa minggu sebelum kami memahami betapa serius situasi kami."
Begitu novel ini dimulai—dengan pengakuan pembunuhan yang dingin dan jujur.
Bayangkan Anda adalah bagian dari kelompok kecil mahasiswa elite yang mempelajari bahasa dan budaya Yunani Kuno. Anda menghabiskan hari-hari membaca Plato, berdiskusi tentang keindahan, minum anggur, dan merasa seperti Anda hidup di era yang lebih tinggi, lebih mulia daripada dunia modern yang vulgar.
Lalu suatu hari, salah satu teman Anda—Bunny, dengan senyum lebar dan lelucon buruknya—terjatuh dari jurang. Atau lebih tepatnya: didorong.
Dan Anda adalah salah satu yang mendorongnya.
Ini bukan cerita misteri tentang siapa pelakunya. Donna Tartt memberitahu kita di halaman pertama: mereka semua bersalah. Richard, si narator. Henry yang jenius dan dingin. Twins yang cantik, Charles dan Camilla. Francis yang kaya dan neurotik.
Pertanyaannya bukan SIAPA. Pertanyaannya adalah: BAGAIMANA sekelompok mahasiswa cerdas, berpendidikan, yang mengabdikan hidup mereka untuk mempelajari kebajikan dan keindahan, bisa berakhir sebagai pembunuh?
Dan jawabannya—seperti yang akan kita lihat—adalah kisah tentang obsesi, elitisme, dan bahaya dari percaya bahwa Anda di atas moralitas biasa.
Selamat datang di Hampden College. Selamat datang di dunia di mana kecantikan lebih penting daripada kebaikan. Di mana intelektualitas menjadi pembenaran untuk amoralitas.
Mari kita mulai dari awal—ketika Richard Papen, anak miskin dari California, pertama kali menginjakkan kaki ke kampus New England yang dingin ini dan jatuh cinta dengan kehidupan yang tidak pernah sepenuhnya menjadi miliknya.