Ukuran teks
18

Pertemuan Rahasia di Minneapolis

11 April 1999. Sebuah ruang konferensi di kantor pusat Pillsbury, Minneapolis. 

Sebelas CEO dan presiden perusahaan makanan terbesar di Amerika berkumpul: Nestlé, Kraft, Nabisco, General Mills, Procter & Gamble, Coca-Cola, Mars. Mereka mengendalikan 80% makanan yang dimakan orang Amerika setiap hari. 

Ini bukan pertemuan bisnis biasa. Ini adalah pertemuan darurat. 

Michael Mudd, wakil presiden Kraft, berdiri di depan ruangan dengan presentasi PowerPoint yang mengkhawatirkan. Judulnya: "Obesity Crisis in America." 

Dia menunjukkan grafik yang mengerikan: tingkat obesitas melonjak. Diabetes tipe 2 meledak. Penyakit jantung membunuh ratusan ribu orang setahun. Dan produk mereka adalah penyebab utamanya. 

"Kita menghadapi krisis kesehatan masyarakat," kata Mudd. "Dan kita—industri makanan—adalah bagian besar dari masalah." 

Ruangan hening. 

Lalu CEO General Mills, Stephen Sanger, berbicara. Dengan tenang dan tegas, dia mengatakan sesuatu yang akan menentukan masa depan industri makanan: 

"Jangan bicara padaku tentang nutrisi. Bicara padaku tentang rasa. Dan jika produk ini gagal dalam rasa, konsumen tidak akan membelinya. Dan saya tidak akan menghasilkan uang." 

Pertemuan berakhir tanpa kesepakatan. Tanpa rencana aksi. Tanpa komitmen untuk mengubah apa pun.

Dan sejak saat itu, industri makanan terus melakukan apa yang mereka lakukan terbaik: membuat produk yang dirancang secara scientifik untuk membuat kita tidak bisa berhenti makan. 

Michael Moss, jurnalis investigasi peraih Pulitzer Prize, menghabiskan empat tahun menelusuri bagaimana ini semua terjadi. Dia mewawancarai ratusan ilmuwan makanan, eksekutif, whistle-blower, dan korban. 

Yang dia temukan mengejutkan: Garam, gula, dan lemak bukan sekadar bahan. Mereka adalah senjata yang direkayasa dengan presisi untuk membuat kita ketagihan. 

Mari kita mulai dengan yang paling manis—dan paling berbahaya.

 


1 dari 9