Pria yang Punya Segalanya—Kecuali Kehidupan
Jack Valentine berusia 37 tahun.
Dia adalah COO (Chief Operating Officer) dari salah satu perusahaan teknologi paling sukses di Silicon Valley. Gaji tujuh digit. Mobil Porsche. Penthouse di gedung paling prestisius. Arloji Rolex. Pakaian designer.
Dari luar, Jack adalah definisi kesuksesan.
Tapi setiap pagi ketika dia bangun—setelah tidur hanya empat jam dengan bantuan pil tidur—dia merasakan kekosongan yang membingungkan. Seperti ada lubang di dadanya yang tidak bisa diisi oleh mobil mahal atau bonus tahunan.
Hubungannya dengan istri sudah dingin sejak lama. Anak-anaknya tidak mengenalnya—dia pergi sebelum mereka bangun dan pulang setelah mereka tidur. Dia tidak punya teman sejati, hanya koneksi bisnis. Kesehatannya berantakan—berat badan naik, kolesterol tinggi, migrain kronis.
Dan yang paling menakutkan: dia tidak ingat terakhir kali dia benar-benar bahagia.
Suatu Selasa pagi, dalam perjalanan ke kantor, sesuatu terjadi.
Jack merasakan nyeri menusuk di dada. Napasnya sesak. Keringat dingin. Dunia berputar. Sopirnya panik dan langsung membawanya ke rumah sakit.
Bukan serangan jantung. Tapi dokter memberikan peringatan serius: "Mr. Valentine, tubuh Anda memberikan sinyal. Jika Anda tidak mengubah cara hidup Anda, saya tidak bisa menjamin Anda akan hidup untuk melihat anak-anak Anda lulus kuliah."
Malam itu, sendirian di kamar hotel rumah sakit (dia menolak menginap di rumah—"terlalu banyak pekerjaan"), Jack menatap langit-langit dan mengajukan pertanyaan yang akan mengubah hidupnya:
"Ini yang aku inginkan? Ini semua yang hidup tawarkan? Sukses tanpa makna? Uang tanpa kebahagiaan? Prestasi tanpa kedamaian?"
Keesokan harinya, dia membuat keputusan gila: dia akan mengambil cuti tiga bulan—pertama kalinya dalam 15 tahun karir—untuk mencari jawaban.
Dia tidak tahu bahwa keputusan ini akan membawanya bertemu dengan tiga guru luar biasa yang akan mengubah segalanya.
Mari kita ikuti perjalanan Jack.