Ukuran teks
18

Ketika Kesuksesan Hampir Membunuhmu

John Mark Comer ingat momen itu dengan jelas. 

Usia 30-an. Pendeta gereja yang berkembang pesat di Portland. Setiap minggu ratusan orang datang. Media lokal meliput. Undangan berbicara berdatangan. Dari luar, hidupnya terlihat seperti mimpi. 

Tapi di dalam, dia sekarat. 

Suatu pagi, dia duduk di meja dapur dengan secangkir kopi yang sudah dingin—lagi. Istrinya, Tammy, duduk di seberangnya. Mereka berdua tahu percakapan ini tidak bisa ditunda lagi. 

"Kamu tidak hadir," kata Tammy pelan. "Maksudku, kamu di sini secara fisik. Tapi kamu tidak benar-benar ada." 

John Mark mau membantah. Tapi dia tidak bisa. Karena itu benar. 

Dia mengecek email saat sarapan. Pikiran melompat ke meeting berikutnya saat bermain dengan anak-anaknya. Berbaring di tempat tidur tapi otaknya masih racing—to-do list yang tidak pernah selesai, pesan yang belum dibalas, deadline yang mendekat. 

Dia produktif. Sangat produktif. Tapi dia juga: 

● Lelah sepanjang waktu 

● Cemas terus-menerus 

● Mudah marah pada hal-hal kecil 

● Merasa terputus dari Tuhan—ironis untuk seorang pendeta 

● Tidak bisa mengingat kapan terakhir dia benar-benar hadir untuk istrinya, anak-anaknya, atau bahkan dirinya sendiri 

Dokter bilang: "Anda burnout. Anda perlu istirahat."

Tapi istirahat bukan solusi jangka panjang. Karena begitu istirahat selesai, dia kembali ke ritme yang sama—ritme yang perlahan membunuhnya. 

Lalu dia bertemu dengan mentor spiritualnya dan mendengar satu kalimat yang mengubah hidupnya: 

"Kamu perlu ruthlessly eliminate hurry from your life." 

Singkirkan tergesa-gesa dari hidupmu. Dengan kejam. Tanpa kompromi. 

Kata-kata itu datang dari Dallas Willard, salah satu teolog paling berpengaruh di abad ke-20. Dan diagnosis Willard sederhana namun menghancurkan: 

"Hurry is the great enemy of spiritual life in our day." 

Tergesa-gesa adalah musuh terbesar dari kehidupan rohani di zaman kita. Bukan pornografi. Bukan materialisme. Bukan bahkan kejahatan yang mencolok. Tapi hurry—ritme hidup yang terlalu cepat yang membuat jiwa kita tidak bisa bernapas. 

Buku "The Ruthless Elimination of Hurry" adalah perjalanan John Mark untuk keluar dari tyranny of urgency dan menemukan kehidupan yang lebih lambat, lebih dalam, dan paradoksnya—lebih hidup

Mari kita mulai.

 


1 dari 9