Ukuran teks
18

Dua Rumah, Sama Mulianya

Bayangkan hidup di kota di mana nama keluarga Anda menentukan musuh Anda. 

Bukan karena Anda pernah bertengkar dengan mereka. Bukan karena mereka pernah menyakiti Anda secara pribadi. Tapi karena kakek buyut kakek buyut Anda pernah berseteru dengan kakek buyut kakek buyut mereka—entah kapan, entah kenapa, sudah tidak ada yang ingat. 

Dan karena kebencian itu, anak-anak lahir dengan daftar musuh yang sudah ditentukan. Persahabatan dilarang. Percakapan terlarang. Bahkan kontak mata bisa memicu keributan berdarah di tengah pasar. 

Selamat datang di Verona, Italia, abad ke-16. 

Selamat datang di dunia Romeo dan Juliet. 

William Shakespeare, jenius teater terbesar sepanjang masa, menulis kisah ini lebih dari 400 tahun lalu. Tapi pertanyaan yang dia ajukan masih bergema hari ini: 

Bisakah cinta mengalahkan kebencian? Atau akankah kebencian menghancurkan cinta?

Spoiler alert: ini adalah tragedi. Jadi bersiaplah untuk patah hati. 

Tapi di balik air mata, ada pelajaran yang akan mengubah cara Anda melihat cinta, keluarga, dan pilihan-pilihan yang kita buat. 

Mari kita mulai dengan dua keluarga yang saling membenci—dan dua remaja yang berani mencintai.

 


1 dari 13