Pertanyaan yang Tidak Pernah Dijawab
Bayangkan dunia tanpa warna.
Tidak ada hijau di pohon. Tidak ada biru di langit. Hanya abu. Abu yang menutupi segalanya—jalan, rumah, gunung, laut. Abu yang turun seperti salju kotor, terus-menerus, tidak pernah berhenti.
Matahari tidak terlihat. Langit seperti selimut kelabu tebal. Dingin menembus tulang. Tidak ada burung. Tidak ada serangga. Tidak ada suara selain angin yang meniup debu dan serpihan.
Bayangkan dunia tanpa makanan.
Supermarket sudah lama dirampok. Ladang tidak ada yang tumbuh. Hewan sudah punah. Yang tersisa hanya kaleng-kaleng tua di basement rumah yang ditinggalkan, atau mayat-mayat yang membeku di jalan.
Bayangkan dunia tanpa harapan.
Tidak ada pemerintah. Tidak ada rumah sakit. Tidak ada sekolah. Tidak ada masa depan. Peradaban sudah runtuh. Yang tersisa hanya manusia-manusia yang berubah menjadi binatang—kanibal yang berburu manusia lain untuk dimakan.
Di dunia seperti ini, mengapa Anda tidak bunuh diri saja?
Banyak yang melakukannya. Istri si ayah melakukannya. Dia pergi ke dalam kegelapan dan tidak pernah kembali, meninggalkan suami dan anak laki-laki kecil mereka.
Tapi sang ayah memilih tetap hidup. Bukan untuk dirinya sendiri. Untuk anaknya.
Dan bersama anak itu, dia berjalan. Ke selatan. Mencari kehangatan yang mungkin tidak ada. Mencari pantai yang mungkin sama abu-abunya. Mencari harapan di dunia yang tidak punya harapan.
"The Road"—karya masterpiece Cormac McCarthy yang memenangkan Pulitzer Prize—adalah kisah perjalanan mereka.
Bukan petualangan heroik. Bukan cerita penyelamatan dunia. Ini adalah kisah tentang bagaimana cinta bisa bertahan ketika segalanya sudah mati. Tentang bagaimana kemanusiaan bisa dijaga ketika tidak ada alasan untuk tetap manusiawi.
Mari kita mulai perjalanan ini—perjalanan yang menyakitkan, menghancurkan, tapi juga indah dengan caranya sendiri.