Mengejar Menara yang Hampir Tidak Ada yang Peduli
Bayangkan ini: Tahun 1933. Anda aristokrat muda Inggris, hidup nyaman di London, punya akses ke semua museum dan perpustakaan terbaik Eropa.
Tapi Anda memutuskan untuk menghabiskan setahun penuh—dan hampir semua uang Anda—untuk melakukan perjalanan ke tempat yang sebagian besar orang Inggris bahkan tidak bisa tunjuk di peta: Afghanistan.
Mengapa?
Untuk melihat sebuah menara.
Bukan Menara Eiffel. Bukan Menara Pisa. Tapi Tower of Gombad-i-Qabus—sebuah menara bata setinggi 50 meter yang dibangun pada tahun 1006 di tengah gurun Persia (sekarang Iran), yang hampir tidak ada yang pernah dengar.
Teman-teman Anda bilang Anda gila. Keluarga Anda khawatir. Pemerintah Inggris memperingatkan bahwa wilayah itu berbahaya—penuh bandit, penyakit, dan rezim yang tidak bersahabat.
Tapi Robert Byron, usia 28 tahun, tidak peduli.
Dia punya teori: bahwa akar dari semua arsitektur Islam yang agung—dari Taj Mahal hingga masjid-masjid Turki—bisa ditelusuri kembali ke Persia abad ke-10 dan 11. Dan Tower Gombad-i-Qabus adalah salah satu kunci untuk membuktikan teorinya.
Jadi dia pergi. Dengan seorang teman (Christopher Sykes), kamera, buku catatan, dan obsesi yang tidak masuk akal terhadap menara-menara kuno.
Yang dia temukan di perjalanan bukan hanya arsitektur. Dia menemukan absurditas birokrasi Oriental, keindahan yang menakjubkan berdampingan dengan kemiskinan yang mengerikan, dan kebenaran bahwa beberapa hal hanya bisa dipahami jika Anda melihatnya dengan mata sendiri—tidak peduli seberapa keras perjalanannya.
"The Road to Oxiana" adalah catatan perjalanan itu. Ditulis dalam bentuk diary yang tajam, lucu, dan sering brutal jujur, buku ini dianggap oleh banyak kritikus—termasuk Paul Fussell dan Bruce Chatwin—sebagai salah satu buku perjalanan terbaik yang pernah ditulis dalam bahasa Inggris.
Mari kita ikuti jejak Byron dari Venice ke jantung Afghanistan—dan lihat apa yang dia pelajari di sepanjang jalan.