Sungai Tempat Kita Menangis
Bayangkan Anda duduk sendirian di tepi sungai di musim dingin. Air mengalir membawa daun-daun gugur. Udara dingin menusuk kulit. Dan Anda menangis—bukan karena kesedihan biasa, tapi karena hati Anda baru saja memilih antara keamanan dan keajaiban.
Ini adalah tempat di mana Pilar—protagonis novel Paulo Coelho—menulis kisahnya. Di tepi Sungai Piedra, di sebuah desa kecil di Prancis, dia menghabiskan tiga hari mencoba memahami apa yang baru saja terjadi dalam hidupnya.
Tujuh hari sebelumnya, dia adalah wanita muda yang rasional. Mahasiswa yang punya rencana jelas untuk masa depannya. Seseorang yang percaya bahwa cinta adalah sesuatu yang bisa dikontrol, dianalisis, dan diputuskan dengan kepala.
Tujuh hari kemudian, setelah bertemu kembali dengan teman masa kecilnya yang kini menjadi guru spiritual dengan kemampuan aneh, seluruh dunianya runtuh dan dibangun kembali.
Ini bukan sekadar kisah cinta. Ini adalah kisah tentang pilihan yang paling menakutkan dalam hidup kita: apakah kita akan membiarkan cinta mengubah kita, atau kita akan melindungi diri dengan tembok keamanan yang kita bangun?
Paulo Coelho menulis dengan indah:
"Jika Anda harus memilih antara sesuatu yang pasti dan kehilangan kontrol, antara keamanan dan petualangan, antara logika dan cinta—pilihan mana yang akan Anda ambil?"
Mari kita ikuti perjalanan Pilar selama tujuh hari yang mengubah hidupnya.