Pertanyaan yang Memecah Belah Masyarakat
Bayangkan Anda sedang makan malam bersama keluarga besar saat Lebaran.
Tiba-tiba paman Anda—yang Anda tahu pendukung kandidat A—mulai membicarakan politik. "Kandidat B itu pembohong! Bagaimana orang bisa memilih dia?"
Sepupu Anda—pendukung kandidat B—langsung bereaksi. "Kandidat A yang berbohong! Kamu tidak lihat faktanya?"
Dalam hitungan menit, ruangan terpecah. Orang-orang yang baik, yang sama-sama peduli pada negara, yang sama-sama ingin yang terbaik untuk keluarga mereka—berteriak satu sama lain.
Dan Anda duduk di tengah, berpikir: "Bagaimana ini bisa terjadi? Kita semua orang baik. Mengapa kita tidak bisa sepakat tentang apa yang benar?"
Jonathan Haidt, psikolog dari University of Virginia (sekarang NYU), menghabiskan 25 tahun karirnya mengajukan pertanyaan ini. Dan jawaban yang dia temukan mengejutkan—bahkan mengubah cara kita memahami moralitas itu sendiri.
Inilah temuannya: Kita semua berpikir moralitas itu tentang finding the truth. Padahal, moralitas lebih tentang binding groups together.
Kita pikir perbedaan moral terjadi karena "mereka bodoh" atau "mereka jahat." Padahal, perbedaan terjadi karena kita menggunakan fondasi moral yang berbeda untuk menilai dunia.
Buku "The Righteous Mind" bukan hanya menjelaskan mengapa orang baik terpecah oleh politik dan agama. Buku ini memberikan Anda peta untuk memahami—dan akhirnya menjembatani—perpecahan itu.
Ini bukan buku politik. Ini buku tentang bagaimana pikiran manusia bekerja ketika kita berbicara tentang benar dan salah.
Dan pemahaman ini mungkin adalah hal terpenting yang Anda butuhkan untuk bertahan hidup di era polarisasi ini.
Mari kita mulai.