Telepon yang Mengubah Segalanya
Tahun 2005. Saya baru saja diangkat sebagai CEO Walt Disney Company—salah satu perusahaan hiburan paling ikonik di dunia.
Tapi di balik kemegahan nama Disney, kenyataannya mengerikan: studio animasi kami—jantung dari apa yang membuat Disney menjadi Disney—sekarat. Film-film terbaru kami gagal. Hubungan dengan Pixar—mitra kami yang paling sukses—hancur. Kompetisi lebih intens dari sebelumnya. Teknologi berubah dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Dan saya, untuk pertama kalinya dalam karir saya yang panjang, merasa takut. Saya mengangkat telepon dan menelepon Steve Jobs.
"Steve, saya punya ide gila dan saya ingin bicara dengannya dengan Anda."
Ada jeda di sisi lain. Steve tahu bahwa siapa pun yang bilang mereka punya "ide gila" pasti menarik perhatiannya.
"Mengapa tidak ceritakan sekarang?" jawabnya dengan nada penasaran yang saya kenal. Saya menarik napas dalam. "Bagaimana jika Disney membeli Pixar?"
Keheningan. Saya bersiap untuk penolakan, ejekan, bahkan kemarahan. Hubungan antara Disney dan Steve telah rusak di bawah pemimpin sebelumnya, Michael Eisner. Steve membenci Disney. Mengapa dia mau menjual perusahaan yang ia cintai kepada kami?
Lalu Steve berkata sesuatu yang tidak pernah saya harapkan: "Itu tidak segila kedengarannya."
Momen itu—telepon itu—adalah awal dari transformasi yang akan mengubah Disney selamanya. Tapi untuk memahami bagaimana kami sampai di sana, Anda perlu tahu dari mana saya datang.