Dua Ayah, Dua Pelajaran yang Berbeda
Robert Kiyosaki duduk di meja makan bersama kedua putrinya yang masih kecil.
Putri sulungnya baru pulang dari sekolah dengan nilai rapor sempurna. Semua A. Guru-gurunya memuji. Dia anak yang cerdas, rajin, dan penurut.
Kiyosaki tersenyum. "Kamu hebat, sayang. Ayah bangga."
Tapi kemudian dia bertanya sesuatu yang membuat putrinya bingung:
"Sekarang coba jelaskan ke Ayah: apa perbedaan antara aset dan liabilitas?"
Putrinya diam. Dia baru dapat nilai A di matematika, tapi tidak tahu jawabannya.
"Di sekolah, apakah guru pernah mengajarkan tentang uang? Tentang bagaimana uang bekerja? Tentang perbedaan antara bekerja untuk uang dan membuat uang bekerja untuk kamu?"
"Tidak, Ayah. Kami tidak belajar itu."
Dan di sinilah Kiyosaki menyadari sesuatu yang mengubah hidupnya—dan yang mendorongnya menulis buku ini:
"Sistem pendidikan kita brilian dalam menciptakan karyawan yang baik. Tapi sistem yang sama ini sangat buruk dalam menciptakan orang yang kaya."
Kiyosaki tumbuh dengan dua ayah:
Ayah Kandungnya (yang dia sebut "Poor Dad") adalah seorang profesor dengan gelar PhD. Nilai akademisnya sempurna. Dia percaya pada pendidikan tradisional, kerja keras, dan menabung. Tapi dia berjuang secara finansial sepanjang hidupnya.
Ayah Sahabatnya (yang dia sebut "Rich Dad") tidak pernah menyelesaikan SMA. Tapi dia menjadi salah satu orang terkaya di Hawaii. Mengapa? Karena dia memahami satu hal yang sistem sekolah tidak ajarkan: bagaimana uang bekerja.
Buku "Rich Kid Smart Kid" lahir dari pertanyaan sederhana namun powerful:
"Mengapa anak-anak kita tidak belajar tentang uang di sekolah? Dan bagaimana kita sebagai orang tua bisa memberikan mereka keunggulan finansial yang sistem pendidikan gagal berikan?"
Mari kita mulai.