Ukuran teks
18

Mimpi yang Sekarat

Bayangkan Anda lahir di Amerika tahun 1950-an. 

Ayah Anda bekerja di pabrik. Gaji cukup untuk membeli rumah, mobil, membiayai kuliah anak-anak. Satu gaji bisa menghidupi satu keluarga dengan nyaman. Tetangga Anda—guru, tukang ledeng, perawat—semua punya standar hidup yang layak. 

Ini bukan utopia. Ini adalah kenyataan untuk mayoritas kelas pekerja Amerika di pertengahan abad ke-20. 

Sekarang bayangkan Anda lahir tahun 1990-an. 

Kedua orang tua bekerja. Mereka punya dua atau tiga pekerjaan. Masih kesulitan bayar sewa. Utang kartu kredit menumpuk. Utang kuliah mencekik. Rumah? Itu mimpi yang semakin jauh. Pensiun? Jangan harap. 

Dan Anda bekerja lebih keras dari generasi orang tua Anda. Lebih terdidik. Lebih produktif. Tapi hidup semakin sulit. 

Apa yang terjadi? 

Noam Chomsky—linguist terkemuka, filsuf, dan kritikus sosial yang paling berpengaruh di dunia—menghabiskan puluhan tahun mempelajari pertanyaan ini. 

"Requiem for the American Dream" adalah kesimpulan dari pengamatan seumur hidupnya: sebuah otopsi tentang kematian mimpi Amerika. 

Ini bukan tentang partai politik tertentu. Bukan tentang Republik vs Demokrat. Ini tentang sesuatu yang lebih mendasar dan lebih menakutkan: bagaimana sistem dirancang—dengan sengaja dan sistematis—untuk mengonsentrasikan kekayaan dan kekuasaan di tangan segelintir elite, sambil marginalkan mayoritas.

Chomsky, di usia 80-an, memberikan wawancara terakhirnya yang komprehensif tentang topik ini. Hasilnya adalah buku yang mengungkap 10 prinsip yang digunakan elite untuk membajak demokrasi Amerika. 

Ini bukan teori konspirasi. Ini analisis berdasarkan data, sejarah, dan dokumen kebijakan publik. 

Dan setelah membacanya, Anda tidak akan pernah melihat berita, politik, atau ekonomi dengan cara yang sama lagi.

 


1 dari 11