Ukuran teks
18

Malam di Ibiza yang Mengubah Segalanya

24 tahun. Pulau Ibiza. Langit berbintang. Musik dari klub terdengar samar di kejauhan. 

Matt Haig berdiri di tepi tebing, menatap ke bawah. Laut Mediterania berkilauan di bawah cahaya bulan. Indah. Tenang. Mengundang. 

Dan dia berpikir: "Aku ingin melompat." 

Bukan pikiran yang lewat begitu saja. Bukan fantasi dramatis. Ini adalah dorongan yang nyata, mendesak, seperti rasa haus ketika dehidrasi atau napas ketika menahan napas terlalu lama. 

Tubuhnya gemetar. Jantungnya berdetak seperti drum yang gila. Keringat dingin. Napas pendek-pendek. Dunia berputar. Dan dalam kepalanya, satu suara terus berbisik: "Lompat. Akhiri ini. Akhiri rasa sakit ini." 

Dia tidak melompat. Entah mengapa—mungkin karena Andrea, pacarnya yang berdiri di belakang, khawatir dan ketakutan. Mungkin karena sebagian kecil dari dirinya masih berharap ada jalan keluar lain. 

Tapi malam itu adalah awal dari tiga tahun di neraka—tiga tahun berjuang dengan depresi dan kecemasan yang begitu parah sampai bangun dari tempat tidur terasa seperti mendaki gunung dengan kaki patah. 

Ini adalah kisah bagaimana Matt Haig selamat. 

Bukan kisah tentang penyembuhan ajaib. Bukan kisah tentang menemukan satu solusi yang menyelesaikan segalanya. Tapi kisah tentang bertahan hidup satu hari pada satu waktu sampai hari-hari itu bertambah menjadi minggu, bulan, tahun—sampai suatu hari dia menyadari bahwa dia ingin hidup. 

Dan dia menulis buku ini untuk siapa pun yang pernah berdiri di tebing mereka sendiri—literal atau metaforis—dan berpikir tidak ada jalan keluar.

 


1 dari 9