Ukuran teks
18

Ketika Semuanya Runtuh

Pernahkah Anda menghabiskan berhari-hari, berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan membangun sesuatu yang Anda cintai—lalu dalam sekejap, semuanya hancur? 

Mungkin itu proyek bisnis yang gagal setelah setahun bekerja keras. Mungkin hubungan yang berakhir setelah bertahun-tahun bersama. Mungkin kehilangan pekerjaan yang Anda banggakan. Mungkin rencana masa depan yang tiba-tiba tidak bisa terwujud. 

Dan ketika Anda duduk di tengah reruntuhan itu—bingung, terluka, hancur—orang-orang mulai berdatangan. 

Teman baik Anda datang dengan semangat: "Ayo ceritakan! Keluarkan semuanya! Bicara akan membuatmu lebih baik!" 

Rekan kerja Anda berkata tegas: "Kamu harus marah! Mereka tidak pantas memperlakukanmu seperti itu! Fight back!" 

Saudara Anda langsung menawarkan solusi: "Sudahlah, kita perbaiki. Ayo kita buat rencana. Masalah ini bisa diselesaikan!" 

Orang lain berbisik: "Lupakan saja. Move on. Tidak usah dipikirkan lagi." 

Ada yang mencoba menghibur: "Lihat sisi baiknya! Setidaknya sekarang kamu belajar sesuatu. Tetap positif!" 

Semua orang punya saran. Semua orang punya cara. Semua orang tahu apa yang "harusnya" Anda lakukan. 

Tapi tidak ada yang bertanya: "Apa yang kamu butuhkan sekarang?" 

Dan Anda duduk di sana, semakin lelah. Bukan karena runtuhnya bangunan yang Anda ciptakan. Tapi karena beban untuk merespons semua "kebaikan" orang lain.

Inilah yang Cori Doerrfeld tangkap dengan begitu indah dalam buku anak-anak yang mengubah cara jutaan orang dewasa memahami empati: "The Rabbit Listened." 

Sebuah buku bergambar sederhana tentang seorang anak dan kelinci. Tapi juga buku paling mendalam tentang bagaimana kita seharusnya hadir untuk orang yang kita cintai ketika mereka menderita. 

Mari kita masuki cerita ini—dan menemukan pelajaran yang bahkan banyak orang dewasa belum pelajari.

 


1 dari 7