Ukuran teks
18

Ketika Diam Dianggap Kelemahan

Bayangkan Anda adalah seorang pengacara Wall Street yang sukses. Anda lulus dari Princeton dan Harvard Law School. Anda pandai dalam negosiasi, analisis mendalam, dan pemikiran strategis. 

Tapi ada satu masalah: Anda membenci berada di sorotan. Anda tidak suka berbicara di depan umum. Anda merasa terkuras setelah menghadiri pesta networking. Anda lebih suka bekerja sendiri daripada di ruang konferensi yang bising. 

Dan setiap hari, Anda merasa seperti sedang tinggal di negara asing. 

Orang itu adalah Susan Cain, penulis buku Quiet yang mengubah cara dunia memandang introvert. 

Setelah bertahun-tahun mencoba "memperbaiki" dirinya agar lebih ekstrovert—lebih vokal, lebih visible, lebih "out there"—Susan menyadari sesuatu yang mengejutkan: tidak ada yang perlu diperbaiki. 

Masalahnya bukan pada dirinya. Masalahnya adalah pada dunia yang telah membuat satu tipe kepribadian—ekstrovert—sebagai standar emas keberhasilan. 

Sepertiga hingga setengah dari populasi dunia adalah introvert. Itu berarti puluhan juta orang di Indonesia sendiri, ratusan juta di seluruh dunia. 

Namun kita hidup di dunia yang didesain untuk ekstrovert. Dari ruang kelas dengan meja berkelompok, hingga kantor open-plan, hingga budaya "speak up or lose out"—semuanya memberikan pesan yang sama: diam adalah kelemahan. 

Tapi bagaimana jika pesan itu salah? 

Bagaimana jika beberapa pemikiran terhebat, seni terindah, dan inovasi paling brilian—dari teori evolusi hingga bunga matahari Van Gogh hingga komputer pribadi—justru datang dari orang-orang yang tenang dan reflektif yang tahu cara mendengarkan dunia dalam diri mereka?

Inilah cerita tentang kekuatan tersembunyi dari introvert, dan mengapa dunia yang terobsesi dengan ekstrovert sedang membuat kesalahan besar.

 


1 dari 11