Perampok yang Memakai Jus Lemon
Pittsburgh, 1995. McArthur Wheeler berjalan dengan percaya diri ke dalam sebuah bank. Wajahnya diolesi sesuatu—jus lemon. Dia merampok bank itu dengan santai, tanpa masker, tanpa upaya menyembunyikan identitasnya.
Beberapa jam kemudian, dia merampok bank kedua. Lagi-lagi, wajahnya penuh jus lemon. Lagi-lagi, tanpa masker.
Hari itu juga, polisi menangkapnya menggunakan rekaman CCTV yang menunjukkan wajahnya dengan sangat jelas. Ketika ditunjukkan rekaman itu, Wheeler benar-benar kaget dan tidak percaya.
"Tapi saya sudah pakai jusnya!" protesnya dengan sungguh-sungguh.
Apa yang terjadi? Wheeler pernah mendengar bahwa jus lemon bisa digunakan sebagai tinta tidak kasat mata. Dalam logikanya yang keliru, jika jus lemon membuat tulisan tidak terlihat di kertas, maka jus lemon yang dioleskan ke wajah akan membuatnya tidak terlihat di kamera.
Cerita ini—yang sempat viral sebagai "salah satu penjahat terbodoh sepanjang masa"—sebenarnya membuka pintu ke pertanyaan yang jauh lebih dalam: Mengapa orang cerdas kadang melakukan hal yang sangat bodoh?
Pertanyaan inilah yang menjadi fokus buku "The Psychology of Stupidity" yang diedit oleh Jean-François Marmion, mengumpulkan wawasan dari psikolog, neurolog, dan pemikir terkemuka dunia—termasuk pemenang Nobel—untuk membedah fenomena yang ada di mana-mana ini: kebodohan.