Pertanyaan yang Tidak Boleh Ditanyakan
Tahun 1998. Krisis ekonomi Asia menghancurkan jutaan kehidupan. Thailand, Indonesia, Korea Selatan—negara-negara yang disebut "macan Asia"—tiba-tiba runtuh.
Perusahaan bangkrut. Bank kolaps. Mata uang jatuh bebas. Ratusan ribu orang kehilangan pekerjaan dalam semalam.
Di Indonesia, harga beras—makanan pokok—melonjak 500%. Orang-orang yang kemarin termasuk kelas menengah, hari ini mengantri di dapur umum.
Media mainstream memberitakan: "Ini karena crony capitalism. Korupsi. Nepotisme. Kesalahan negara-negara Asia sendiri."
Tapi ada pertanyaan yang tidak pernah mereka tanyakan:
Siapa yang diuntungkan dari krisis ini?
Sementara jutaan rakyat kehilangan segalanya, perusahaan-perusahaan multinasional Barat membeli aset-aset Asia dengan harga diskon masif. Bank-bank Wall Street mendapat miliaran dolar dalam bentuk "penyelamatan" dari IMF—uang yang sebenarnya adalah pajak dari rakyat Amerika dan utang yang harus dibayar rakyat Asia.
Krisis tidak merata. Ada yang menderita. Ada yang meraih keuntungan besar.
Noam Chomsky—linguist MIT yang menjadi salah satu intelektual paling berpengaruh dan kontroversial di abad ke-20—menghabiskan lebih dari 50 tahun mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang "tidak boleh" ditanyakan.
"Profit Over People" adalah salah satu kritik paling tajam terhadap sistem ekonomi global yang menempatkan keuntungan korporasi di atas kesejahteraan manusia.
Buku ini bukan untuk yang nyaman dengan status quo. Buku ini akan membuat Anda marah. Membuat Anda bertanya. Dan mungkin—jika Chomsky benar—membuat Anda ingin mengubah sesuatu.
Mari kita mulai dengan pertanyaan fundamental:
Apakah demokrasi dan kapitalisme bisa hidup berdampingan?