Ukuran teks
18

Kenapa Kita Kehilangan Keajaiban Belajar?

Saat Anda masih kecil, Anda belajar berjalan. Jatuh, bangun, jatuh lagi. Ratusan kali. Mungkin ribuan kali. 

Tapi Anda tidak pernah berpikir, "Ah, saya menyerah. Berjalan ini terlalu sulit." Anda tidak frustrasi. Tidak membandingkan diri dengan orang lain yang sudah bisa berjalan. Tidak khawatir apakah Anda akan "berhasil" atau tidak. 

Anda hanya... melakukannya. Lagi dan lagi. Dengan penuh kesabaran tanpa sadar. Dengan fokus penuh pada momen—berdiri, melangkah, jatuh, bangun. Setiap percobaan adalah permainan, bukan ujian. 

Lalu apa yang terjadi? 

Ketika kita dewasa, kita kehilangan keajaiban itu. Kita menjadi tidak sabaran. Frustrasi. Terobsesi dengan hasil, bukan proses. Kita ingin sempurna sekarang juga, atau kita menyerah. 

Belajar gitar? "Mengapa jari saya masih kaku setelah dua minggu?" Memulai bisnis? "Mengapa belum menghasilkan uang setelah tiga bulan?" Olahraga? "Mengapa saya masih tidak fit setelah sebulan gym?" 

Thomas M. Sterner—seorang teknisi piano konser, musisi, dan pelatih performa—mengamati pola ini dalam dirinya sendiri dan ribuan orang yang ia ajar. Dan ia menemukan sesuatu yang mendalam: 

Masalahnya bukan kurangnya bakat. Bukan kurangnya waktu. Masalahnya adalah cara kita berlatih—atau lebih tepatnya, cara kita berpikir tentang berlatih. 

Buku "The Practicing Mind" lahir dari observasi ini. Ini bukan buku tentang cara berlatih piano atau golf atau skill tertentu. Ini buku tentang cara melatih pikiran Anda untuk fokus, sabar, dan menemukan kebahagiaan dalam proses belajar apa pun.

 


1 dari 12