Kebohongan Terbesar yang Kita Katakan pada Diri Sendiri
"No regrets!"
Berapa kali Anda mendengar itu? Di tato lengan seseorang. Di caption Instagram. Di pidato motivasi. Di lagu-lagu populer.
"Live with no regrets." "I regret nothing." "No looking back, only forward." Terdengar inspiring, bukan? Terdengar seperti filosofi hidup yang powerful. Tapi ada satu masalah kecil:
Itu omong kosong.
Daniel H. Pink—penulis bestseller "Drive" dan "When"—menghabiskan bertahun-tahun meneliti penyesalan. Dia mengumpulkan lebih dari 16,000 penyesalan dari orang-orang di 105 negara. Dia mewawancarai psikolog, neuroscientist, ekonom behavioral.
Dan apa yang dia temukan mengejutkan:
Orang yang mengatakan mereka tidak punya penyesalan adalah orang yang paling tidak bahagia dan paling tidak sukses.
Mengapa? Karena penyesalan bukan musuh. Penyesalan adalah kompas.
Penyesalan memberitahu kita apa yang kita hargai. Apa yang penting bagi kita. Dan jika kita dengarkan dengan benar, penyesalan bisa membantu kita membuat keputusan yang lebih baik di masa depan.
Tapi budaya modern kita mengajarkan kita untuk menghindari penyesalan. Untuk "move on." Untuk "stay positive." Dan dalam proses itu, kita kehilangan salah satu alat paling powerful untuk pertumbuhan pribadi.
"The Power of Regret" bukan buku tentang tenggelam dalam penyesalan. Ini buku tentang bagaimana menggunakan penyesalan—bagaimana melihat ke belakang dengan cara yang membawa kita maju.
Dan ternyata, ada pola universal dalam penyesalan manusia. Di seluruh dunia, lintas budaya, manusia menyesali hal yang sama—hanya empat kategori inti.
Jika Anda bisa memahami empat kategori ini, Anda bisa menghindari penyesalan terbesar dalam hidup Anda.
Mari kita mulai.