Pertanyaan yang Memalukan
Amerika adalah negara terkaya dalam sejarah dunia.
GDP-nya $25 triliun. Perusahaan-perusahaan teknologinya mendominasi dunia. Militernya paling kuat. Universitasnya paling bergengsi. Inovasinya mengubah peradaban.
Tapi ada satu statistik yang memalukan:
1 dari 9 orang Amerika hidup dalam kemiskinan.
Lebih dari 38 juta orang—termasuk 12 juta anak-anak—tidak punya cukup uang untuk kebutuhan dasar.
Ini bukan negara berkembang. Ini bukan negara yang baru merdeka. Ini bukan negara yang baru keluar dari perang.
Ini Amerika—negara dengan kantor-kantor megah, rumah-rumah mewah, mobil-mobil Tesla, restoran-restoran Michelin star, yacht pribadi, jet pribadi.
Dan di tengah semua kemewahan itu, ada ibu tunggal yang harus memilih antara membeli makanan atau membayar listrik. Ada pekerja penuh waktu yang tidur di mobil karena tidak mampu sewa apartemen. Ada anak-anak yang datang ke sekolah dengan perut kosong.
Bagaimana ini bisa terjadi?
Untuk waktu yang lama, jawaban standarnya adalah: "Mereka malas. Mereka membuat keputusan buruk. Mereka tidak bekerja cukup keras."
Tapi Matthew Desmond, sosiolog Princeton yang memenangkan Pulitzer Prize, punya jawaban yang berbeda—dan jauh lebih tidak nyaman:
"Kemiskinan ada bukan karena kita tidak bisa mengakhirinya. Kemiskinan ada karena kita—orang-orang yang tidak miskin—mendapat keuntungan dari kemiskinan itu."
Ini bukan buku tentang "mereka"—orang miskin.
Ini buku tentang kita—orang yang tidak miskin, yang setiap hari membuat pilihan-pilihan kecil yang melanggengkan kemiskinan.
Dan jika kita yang menciptakan masalah ini, kita juga yang bisa mengakhirinya.
Mari kita mulai dengan menghadapi kebenaran yang tidak nyaman.