Ukuran teks
18

Kalimat yang Tidak Berarti Apa-Apa

Baca kalimat ini: 

"Dalam konteks situasi yang sedang berkembang saat ini, terdapat berbagai faktor yang perlu dipertimbangkan secara komprehensif untuk menghasilkan outcome yang optimal dalam rangka mencapai objektif strategis yang telah ditetapkan." 

Terdengar penting, bukan? Terdengar profesional. Terdengar cerdas. 

Tapi tunggu sebentar. Coba baca lagi. Apa sebenarnya yang dikatakan kalimat itu?

Tidak ada. 

Kalimat itu adalah 30 kata yang tidak mengatakan apa-apa. Sekumpulan frasa mewah yang disusun untuk terdengar impresif, tapi kosong dari makna konkret. 

Ini adalah apa yang George Orwell sebut sebagai "bahasa palsu"—bahasa yang dirancang bukan untuk mengkomunikasikan kebenaran, tetapi untuk menyembunyikannya. 

Tahun 1946, satu tahun setelah Perang Dunia II berakhir, Orwell menulis essay yang akan menjadi salah satu kritik paling tajam tentang bagaimana bahasa digunakan—dan disalahgunakan—dalam politik dan kehidupan publik. 

"Politics and the English Language" bukan sekadar kritik sastra. Ini adalah peringatan tentang bagaimana bahasa yang buruk menciptakan pemikiran yang buruk, dan bagaimana pemikiran yang buruk membuka jalan bagi tirani. 

Orwell baru saja menyaksikan bagaimana Nazi dan Stalin menggunakan bahasa untuk memanipulasi massa. Dia melihat bagaimana kata-kata seperti "demokrasi," "kebebasan," dan "keadilan" diputarbalikkan maknanya sampai tidak berarti apa-apa. 

Dan dia menyadari: Perang melawan tirani dimulai dengan perang melawan bahasa yang buruk.

 


1 dari 11