Ukuran teks
18

Buku Tertua tentang Storytelling yang Masih Dipakai Hollywood

Tahun 335 Sebelum Masehi. Athena, Yunani. 

Seorang filsuf bernama Aristotle duduk di akademinya, mengamati fenomena yang membuatnya penasaran: 

Mengapa ribuan orang Athena—dari pedagang hingga bangsawan—rela duduk berjam-jam di amphitheater terbuka, menonton drama tentang raja-raja yang jatuh, anak-anak yang membunuh ayah mereka tanpa sadar, dan ibu-ibu yang mengorbankan anak-anak mereka? 

Mengapa mereka menangis untuk karakter fiksi? Mengapa mereka keluar dari teater merasa... lebih ringan, seolah beban emosional mereka tercuci? 

Dan pertanyaan yang paling penting: Apa yang membuat cerita tertentu begitu powerful sementara yang lain dilupakan? 

Aristotle menghabiskan bertahun-tahun menganalisis ratusan drama—karya Sophocles, Euripides, Aeschylus. Dia membedah struktur mereka seperti ahli bedah membedah tubuh. Dan dia menemukan pola

Pola universal tentang bagaimana cerita yang great bekerja. 

Dia menulis temuannya dalam sebuah risalah kecil yang dia sebut "Poetics"—yang secara harfiah berarti "tentang pembuatan." 

2.300 tahun kemudian, buku ini masih menjadi blueprint untuk hampir setiap cerita yang Anda cintai: 

● Breaking Bad mengikuti struktur Aristotle 

● The Godfather adalah tragedi Aristotelian yang sempurna 

● Star Wars menggunakan formula yang sama dengan Oedipus Rex 

● Setiap screenwriting course di Hollywood mengajarkan prinsip-prinsip Aristotle

Mengapa buku yang ditulis sebelum Kristus lahir masih relevan hari ini? 

Karena Aristotle tidak menulis tentang tren atau gaya. Dia menulis tentang sifat dasar manusia—tentang bagaimana kita merespons cerita di level yang paling dalam. 

Mari kita bongkar rahasia-rahasia itu.

 


1 dari 11